5 Tradisi Muludan di Garut, Warisan Islam dan Kearifan Lokal
- account_circle Redaksi Tigarut
- calendar_month Senin, 24 Agt 2026
- visibility 46
- print Cetak

TIGARUT.COM — Bulan Rabiul Awal atau yang akrab disebut bulan Mulud menjadi salah satu momentum penting bagi masyarakat Muslim di Garut. Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW tidak hanya diwujudkan melalui pengajian dan pembacaan selawat, tetapi juga hadir dalam beragam tradisi lokal yang diwariskan lintas generasi.
Berikut 5 tradisi Muludan di Garut yang menarik untuk diketahui:
1. Ritual Mulud Cinunuk
Masyarakat Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, memiliki Ritual Mulud yang berkaitan dengan keluarga besar Raden Wangsa Muhammad atau Pangeran Papak. Tradisi ini berlangsung dalam rangka memuliakan bulan Mulud sekaligus memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Ritual tersebut berlangsung dalam rangkaian Mapag Mulud, Ngebakeun Pusaka, Nyipuh, dan Jajap Mulud. Salah satu cirinya adalah lantunan selawat dengan iringan terebangan, kesenian musik tradisional bernuansa Islami.
2. Ngalungsur Pusaka Godog
Di kawasan Godog, Karangpawitan, terdapat tradisi Ngalungsur Pusaka yang berkaitan dengan peninggalan Sunan Rohmat atau yang dikenal masyarakat sebagai Kian Santang.
Pusaka dibersihkan menggunakan air yang diberi bunga dan minyak wangi. Tradisi ini menjadi bagian dari cara masyarakat mengenang tokoh penyebar Islam sekaligus merawat warisan sejarah dan budaya Garut.
Makam Godog Sunan Rahmat Suci
3. Ritual 14 Mulud Kampung Adat Dukuh
Di Kampung Adat Dukuh, Cikelet, masyarakat memiliki tradisi yang dikenal sebagai Ritual 14 Mulud. Tradisi ini berkaitan erat dengan penghormatan terhadap Syekh Abdul Jalil, tokoh pendiri sekaligus penyebar Islam di Kampung Dukuh.
Kajian antropologis UIN Sunan Gunung Djati Bandung menunjukkan bahwa ritual tersebut memiliki makna sebagai penghormatan terhadap leluhur, penyucian diri, sekaligus berkaitan dengan sejarah lahirnya Kampung Adat Dukuh.
4. Memandikan Pusaka Kampung Pulo
Di Kampung Pulo, Leles, bulan Mulud juga diwarnai tradisi memandikan pusaka. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan dikaitkan dengan leluhur Kampung Pulo, Embah Dalem Arief Muhammad.
Prosesi tersebut disertai lantunan selawat dan doa untuk para leluhur. Tradisi ini menunjukkan bagaimana peringatan bulan Mulud sekaligus menjadi ruang untuk merawat peninggalan sejarah dan identitas budaya masyarakat setempat.
Kampung Pulo
5. Muludan dengan Selawat, Hadroh, dan Tabligh Akbar
Di berbagai kampung di Garut, Muludan juga dirayakan secara lebih sederhana melalui selawatan, hadroh, pembacaan Maulid, pengajian, lomba keagamaan, hingga tabligh akbar.
Tradisi ini biasanya menjadi momentum berkumpulnya warga, mempererat silaturahmi, serta menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Di Garut, praktik Muludan seperti ini telah menjadi bagian dari tradisi keagamaan masyarakat yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Muludan di Garut bukan sekadar perayaan bulan kelahiran Nabi. Di dalamnya terdapat selawat, doa, silaturahmi, penghormatan terhadap ulama dan leluhur, hingga upaya menjaga warisan budaya.
Dari Cinunuk hingga Dukuh, dari Godog hingga Kampung Pulo, Muludan menjadi bukti bahwa Islam dan kearifan lokal dapat tumbuh berdampingan dalam kehidupan masyarakat Garut.
- Penulis: Redaksi Tigarut
- Sumber: AI

Saat ini belum ada komentar