Breaking News

Prabowo, Oligarki, dan Mahasiswa

  • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
  • calendar_month Rabu, 17 Jun 2026
  • visibility 111
  • print Cetak

Analisis Paradoks Politik Indonesia Saat Ini

TIGARUT.COM — Indonesia hari ini sedang berada dalam situasi yang unik sekaligus rumit. Di satu sisi, Presiden Prabowo menghadapi kritik dan tekanan dari kalangan mahasiswa yang kecewa terhadap berbagai kebijakan pemerintah. Di sisi lain, ia juga berhadapan dengan kepentingan-kepentingan oligarki yang selama puluhan tahun telah mengakar kuat dalam politik dan ekonomi Indonesia. Ironisnya, dua kekuatan yang tampak berseberangan ini seperti bertemu pada satu titik yang sama: melemahkan posisi Prabowo.

 

Mahasiswa memiliki alasan-alasan yang dapat dipahami. Mereka mengkritik berbagai kebijakan yang dianggap membebani anggaran negara, mengkhawatirkan kualitas demokrasi, serta mempertanyakan arah pembangunan yang sedang ditempuh pemerintah. Kritik-kritik itu adalah bagian penting dari kehidupan demokrasi. Sebuah negara yang sehat membutuhkan suara kritis dari generasi mudanya agar kekuasaan tidak berjalan tanpa kontrol.

 

Namun, politik tidak pernah sesederhana yang terlihat di permukaan. Dalam sejarah banyak negara, gerakan idealisme sering kali menjadi tenaga pendorong perubahan, tetapi hasil akhirnya justru dinikmati oleh kelompok yang memiliki kekuatan ekonomi, media, dan jaringan kekuasaan yang lebih besar. Mahasiswa bergerak atas dasar idealisme. Oligarki bergerak atas dasar kepentingan. Ketika keduanya berada pada arah yang sama dalam melemahkan pemerintah, bukan berarti tujuan mereka sama.

 

Di sinilah letak paradoks politik Indonesia saat ini. Jika Prabowo benar-benar sedang berusaha memperkuat peran negara dalam mengelola sumber daya strategis, mengurangi kebocoran ekonomi, dan membatasi dominasi kelompok-kelompok rente tertentu, maka sebagian oligarki tentu tidak akan merasa nyaman. Negara yang kuat sering kali menjadi ancaman bagi mereka yang selama ini mendapatkan keuntungan dari lemahnya negara. Dalam perspektif ini, tekanan terhadap Prabowo tidak hanya datang dari jalanan, tetapi juga dari ruang-ruang kekuasaan yang tidak terlihat.

 

Masalahnya, sebagian mahasiswa melihat persoalan hanya pada sosok Prabowo. Padahal persoalan Indonesia jauh lebih besar daripada satu orang presiden. Jika Prabowo turun hari ini, apakah oligarki otomatis hilang? Apakah mafia impor lenyap? Apakah korupsi berhenti? Apakah kartel ekonomi bubar? Apakah politik uang menghilang? Tentu tidak. Struktur yang melahirkan semua penyakit itu tetap ada meskipun orang yang duduk di kursi presiden berganti.

 

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah, siapa yang paling diuntungkan jika terjadi pelemahan atau bahkan pergantian kekuasaan? Rakyat? Belum tentu. Mahasiswa? Belum tentu. Dalam banyak kasus, pihak yang paling siap mengambil keuntungan adalah mereka yang sejak awal memiliki modal, jaringan, dan akses terhadap pusat-pusat kekuasaan. Politik sering kali tidak dimenangkan oleh yang paling idealis, melainkan oleh yang paling siap.

 

Karena itu, Indonesia seharusnya tidak terjebak pada perdebatan dangkal antara mendukung atau menurunkan presiden. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa negara mampu melepaskan diri dari cengkeraman oligarki, siapa pun presidennya. Sebab oligarki tidak bergantung pada satu nama, satu partai, atau satu rezim. Oligarki adalah sebuah pola hubungan kekuasaan yang mampu bertahan dengan berganti wajah sesuai zaman.

 

Dalam hal ini, akar persoalan Indonesia bukan semata-mata Prabowo, bukan pula Gibran, dan bukan hanya oligarki. Akar terdalamnya adalah kualitas kesadaran manusia Indonesia itu sendiri. Selama masyarakat masih mudah terjebak pada kultus tokoh, politik identitas, transaksi kepentingan, dan kemunafikan sosial, maka oligarki akan selalu menemukan cara untuk hidup kembali dalam bentuk yang baru.

 

Karena itu, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah: “Haruskah Prabowo turun?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah setelah Prabowo turun, sistem yang melahirkan oligarki ikut tumbang?”

 

Jika jawabannya tidak, maka pergantian presiden hanya akan menjadi pergantian pemain. Panggungnya tetap sama. Naskahnya tetap sama. Dan rakyat kembali menjadi penonton dari drama yang terus berulang tanpa akhir. Itulah sebabnya perubahan sejati tidak dimulai dari pergantian tokoh, melainkan dari perubahan kesadaran. Sebab ketika kesadaran rakyat naik, oligarki kehilangan tanah tempatnya berpijak. Sebaliknya, ketika kesadaran tetap rendah, siapa pun presidennya, Indonesia akan terus berputar dalam lingkaran masalah yang sama.

 

Tiga Lapisan Struktur

 

Yang menarik dari situasi sekarang justru bukan soal siapa yang sedang berkuasa, tetapi siapa yang sedang memainkan arah kekuasaan. Banyak orang terjebak pada pertarungan tokoh, padahal yang lebih menentukan adalah pertarungan struktur.

 

Dalam hal ini, ada tiga lapisan masalah Indonesia:

 

1. Lapisan permukaan: presiden, menteri, partai, demo, pemilu.

2. Lapisan tengah: oligarki, kartel ekonomi, jaringan rente, birokrasi korup.

3. Lapisan terdalam: kesadaran manusia Indonesia.

 

Mayoritas perdebatan publik berhenti di lapisan pertama. Sedikit yang berani masuk ke lapisan kedua. Hampir tidak ada yang mau menyentuh lapisan ketiga.

 

Padahal, presiden yang baik bisa dikalahkan oleh rakyat yang kesadarannya rendah. Sebaliknya, presiden yang biasa-biasa saja bisa menghasilkan kemajuan jika rakyatnya memiliki kesadaran tinggi, disiplin, dan budaya kerja yang kuat.

 

Karena itu, Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Indonesia juga tidak kekurangan sumber daya alam. Yang masih langka adalah manusia yang mampu mengalahkan nafsunya sendiri: nafsu kekuasaan, nafsu jabatan, nafsu uang, dan nafsu pencitraan.

 

Maka bila hari ini Prabowo benar-benar sedang bertarung melawan sebagian kekuatan oligarki, ia membutuhkan dukungan rakyat yang kritis tetapi adil. Bukan rakyat yang membela tanpa berpikir, dan bukan pula rakyat yang membenci tanpa memahami persoalan.

 

Sikap yang Paling Sehat

 

Sikap yang paling sehat adalah mendukung yang benar, mengkritik yang salah, dan tetap waspada terhadap siapa pun yang sedang memegang kekuasaan.

 

Sebab musuh terbesar bangsa ini bukan Prabowo, bukan mahasiswa, bukan pula satu kelompok tertentu. Musuh terbesar bangsa ini adalah rendahnya kesadaran yang membuat rakyat mudah dipecah, mudah diprovokasi, dan mudah diperalat oleh kepentingan yang tidak mereka sadari.

 

Ketika rakyat sibuk bertengkar soal tokoh, oligarki tertawa. Ketika rakyat naik kesadarannya, oligarki mulai gelisah. Dan ketika rakyat benar-benar dewasa secara politik, oligarki kehilangan kekuatan utamanya: kemampuan untuk memanipulasi kesadaran publik. Itulah sebabnya perjuangan yang paling revolusioner bukan sekadar mengganti penguasa, melainkan menaikkan kualitas manusia Indonesia. Itulah revolusi yang paling sunyi, paling sulit, tetapi juga paling menentukan masa depan bangsa.*** ✍️☕🚬

  • Penulis: Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • 5 Alasan Pergi ke Pantai Taman Manalusu Garut, Hidden Gem di Selatan Garut yang Wajib Dikunjungi

    5 Alasan Pergi ke Pantai Taman Manalusu Garut, Hidden Gem di Selatan Garut yang Wajib Dikunjungi

    • calendar_month Minggu, 2 Agt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 127
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM – Garut Selatan menyimpan banyak destinasi wisata alam yang memikat. Selain Pantai Santolo, Sayang Heulang, dan Rancabuaya, ada satu tempat yang masih tergolong hidden gem, yakni Pantai Taman Manalusu di Desa Cigadog, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut. Pantai ini menawarkan hamparan pasir putih kecokelatan, gugusan karang yang eksotis, hingga suasana yang masih alami dan belum […]

  • 5 Kebun Teh Terindah di Garut yang Wajib Masuk Daftar Liburan

    5 Kebun Teh Terindah di Garut yang Wajib Masuk Daftar Liburan

    • calendar_month Sabtu, 8 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 77
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut tidak hanya dikenal dengan dodol dan wisata pegunungannya, tetapi juga memiliki hamparan kebun teh yang memanjakan mata. Berada di kawasan dataran tinggi dengan udara sejuk, perkebunan teh di Garut menawarkan pemandangan hijau, suasana tenang, serta jejak sejarah panjang industri teh di Jawa Barat. Bagi pencinta wisata alam, kebun teh bisa menjadi pilihan untuk […]

  • 5 SMA Terbaik di Garut 2025, Rekomendasi Sekolah Favorit dengan Prestasi Unggulan

    5 SMA Terbaik di Garut 2025, Rekomendasi Sekolah Favorit dengan Prestasi Unggulan

    • calendar_month Minggu, 18 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • visibility 1.341
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM – Mencari SMA terbaik di Garut menjadi hal penting bagi orang tua dan calon peserta didik menjelang penerimaan peserta didik baru (PPDB). Kabupaten Garut memiliki sejumlah Sekolah Menengah Atas (SMA) unggulan yang dikenal berprestasi, berkualitas, dan konsisten melahirkan lulusan berdaya saing tinggi.   Berdasarkan reputasi akademik, prestasi siswa, serta minat masyarakat, berikut 5 SMA […]

  • Tingkatkan Mutu Pendidikan, Garut Gandeng UPI Latih 400 Pendidik

    Tingkatkan Mutu Pendidikan, Garut Gandeng UPI Latih 400 Pendidik

    • calendar_month Minggu, 19 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • visibility 71
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan melalui penguatan kompetensi tenaga pendidik. Salah satu langkah yang disiapkan ialah menggandeng Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) untuk memberikan pelatihan kepada 400 pendidik guna memperkuat kemampuan, khususnya di bidang literasi dan numerasi. Hal tersebut disampaikan Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, saat menghadiri sekaligus memberikan arahan dalam […]

  • 5 Keunikan Gunung Papandayan Garut, dari Kawah Aktif hingga Hutan Mati

    5 Keunikan Gunung Papandayan Garut, dari Kawah Aktif hingga Hutan Mati

    • calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 95
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM – Kabupaten Garut dikenal sebagai salah satu daerah di Jawa Barat yang kaya akan destinasi wisata alam. Dari pegunungan, air terjun, hingga pemandian air panas, Garut selalu memiliki daya tarik bagi wisatawan. Di antara berbagai destinasi tersebut, Gunung Papandayan menjadi salah satu ikon wisata alam yang paling populer dan tak pernah kehilangan pesonanya. Berada […]

  • Pemkab Garut Apresiasi Exploring IPB 2026, Cetak SDM Unggul untuk Ketahanan Pangan Daerah

    Pemkab Garut Apresiasi Exploring IPB 2026, Cetak SDM Unggul untuk Ketahanan Pangan Daerah

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 310
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM, Garut Kota – Pemerintah Kabupaten Garut memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif Himpunan Mahasiswa Garut Institut Pertanian Bogor (HIMAGA IPB) yang menyelenggarakan kegiatan Exploring IPB 2026. Acara yang berlangsung di Gedung Pendopo, Kecamatan Garut Kota, Sabtu (17/1/2026) ini bertujuan memperkenalkan dunia perkuliahan dan menjaring minat siswa SMA/SMK sederajat di Garut untuk melanjutkan studi ke salah […]

expand_less