Breaking News

Guru juga Manusia

  • account_circle Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
  • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
  • visibility 173
  • print Cetak

TIGARUT.COM —

 

“Guru juga manusia.”

Kalimat ini terdengar sederhana, tapi sering kali paling mudah dilupakan saat sebuah kasus pendidikan viral di media sosial.

 

Belakangan ini banyak orang membahas soal cara guru menegakkan disiplin, ada yang fokus pada kesalahan tindakannya, ada yang membela aturan sekolah, ada juga yang langsung menghakimi pribadi gurunya.

 

Menurutku, ada satu hal yang jarang dibahas: Bagaimana kondisi psikologis gurunya?

 

Jujur, kasus yang sedang ramai ini membuatku teringat sesuatu.

 

Dulu aku pernah ikut seminar tentang self compassion — tentang bagaimana kita belajar berwelas asih pada diri sendiri, dan yang cukup membuatku teringat sampai sekarang… pematerinya justru dari rekan guru BK SMKN 2 Garut.

 

Sebelumnya aku cuma familiar dengan istilah self love, kupikir menjaga diri ya sekadar healing, me time, atau belajar mencintai diri sendiri, ternyata self compassion lebih dalam dari itu.

 

Aku baru sadar bahwa:

mengakui kalau kita lelah secara emosional itu tidak salah. Istirahat sejenak dari rutinitas dan tuntutan itu juga tidak apa-apa.

 

Mengambil jeda bukan berarti lemah, dan mengetahui batas diri ternyata juga bagian dari tanggung jawab profesional_karena guru bukan robot.

 

Guru juga manusia yang bisa penuh, bisa sesak, bisa capek secara mental meskipun wajahnya setiap hari tetap terlihat “baik-baik saja”.

 

Dan jujur…

waktu ikut seminar itu, aku sendiri memang sedang ada di fase: capeeeeeek banget.

Capek yang bukan cuma karena pekerjaan.

Bukan cuma administrasi.

Bukan cuma siswa.

Tapi capek yang numpuk pelan-pelan sampai kadang diri sendiri pun bingung harus cerita ke siapa.

 

Bahkan ada beberapa hal yang rasanya lebih baik dipendam saja karena takut jadi fitnah kalau diceritakan. Makanya ketika sekarang ramai kasus tentang guru, disiplin, emosi, dan cara penanganan siswa… aku jadi teringat lagi materi itu.

 

Bahwa kadang masalah di sekolah bukan sesederhana:

 

“guru jahat” atau “siswa nakal”.

 

Kadang ada manusia-manusia yang sama-sama sedang lelah. Ini bukan untuk membenarkan tindakan yang kurang tepat, tetapi, setiap tindakan yang membuat siswa merasa malu atau terluka perlu dievaluasi.

 

Namun mungkin kita juga perlu melihat lebih dalam bahwa tidak semua ledakan emosi muncul karena kebencian, kadang ia lahir dari kelelahan yang menumpuk terlalu lama.

 

Guru hari ini bukan hanya mengajar, mereka menghadapi perubahan perilaku remaja, tuntutan administrasi, tekanan orang tua, target sekolah, masalah siswa yang semakin kompleks, sekaligus tuntutan untuk selalu sabar, tenang, dan profesional setiap waktu.

 

Dan sering kali…

guru menjadi tempat semua orang menaruh harapan, tapi lupa bertanya:

 

✔️“Apakah gurunya sendiri baik-baik saja?”

✔️Apalagi di sekolah, rasa tekanan itu kadang muncul dari banyak arah.

✔️Ada tuntutan disiplin harus ditegakkan.

✔️Ada siswa yang merasa aturan tidak adil.

✔️Ada tekanan sosial media.

✔️Ada ketakutan dianggap gagal mendidik.

✔️Ada juga rasa resah melihat perubahan perilaku remaja sekarang yang semakin sulit dikendalikan.

 

Kadang yang terlihat sebagai “guru galak”, bisa jadi sebenarnya guru yang terlalu lama memendam resah.

 

Kadang yang terlihat “terlalu keras”, mungkin adalah orang yang diam-diam kelelahan menghadapi banyak hal sendirian.

 

Di sinilah pentingnya self compassion bagi guru.

Self compassion bukan berarti memaklumi kesalahan atau membiarkan diri bertindak semaunya.

 

Tetapi kemampuan untuk menyadari bahwa diri sendiri juga manusia yang bisa lelah, frustrasi, kecewa, bahkan kehilangan kendali sesaat.

 

Karena guru yang terus memaksa dirinya harus kuat setiap hari, lama-lama bisa kehilangan ruang untuk mengelola emosinya sendiri.

 

Mungkin ini bukan hanya soal siapa yang salah dan siapa yang benar, tapi tentang bagaimana dunia pendidikan perlu mulai memberi ruang yang lebih sehat:

untuk siswa bertumbuh,

dan juga untuk guru bernapas.

 

Sebab guru tidak hanya butuh pelatihan menghadapi siswa. Guru juga butuh ruang untuk didengar, dipahami, dan dipulihkan.

 

Karena saat guru kehilangan kesehatan emosionalnya, yang terdampak bukan hanya dirinya… tapi juga cara ia memperlakukan murid-muridnya.

 

Disiplin tetap penting.

Aturan tetap perlu ditegakkan.

Namun pendidikan akan jauh lebih bermakna ketika ketegasan berjalan berdampingan dengan empati — bukan hanya kepada siswa, tetapi juga kepada guru itu sendiri.

 

Dan mungkin… bentuk profesionalisme tertinggi bukan tentang sanggup menahan semuanya sendirian, tetapi tentang tahu kapan harus berhenti sejenak, menenangkan diri, lalu kembali bekerja dengan hati yang lebih utuh.

  • Penulis: Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • 5 Fakta Voice of Baceprot, Band Metal Perempuan asal Garut yang Mendunia

    5 Fakta Voice of Baceprot, Band Metal Perempuan asal Garut yang Mendunia

    • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 93
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM – Kabupaten Garut selama ini dikenal sebagai daerah yang kaya akan pesona alam, kuliner, dan budaya. Namun, di balik julukan tersebut, Garut juga melahirkan talenta musik yang mampu mengharumkan nama Indonesia di panggung internasional. Salah satunya adalah Voice of Baceprot (VoB), band metal perempuan yang sukses membuktikan bahwa mimpi besar dapat diraih dari sebuah […]

  • Buku, Dosen, Google dan AI

    Buku, Dosen, Google dan AI

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • visibility 106
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Banyak orang bertanya, “Kalau semua pengetahuan sudah ada di Google dan AI, untuk apa masih ada buku dan dosen?” Pertanyaan itu tampak modern, tetapi sesungguhnya lahir dari kekeliruan yang sangat tua: menyamakan informasi dengan ilmu, dan menyamakan jawaban dengan kebijaksanaan. Google mampu menunjukkan miliaran halaman. AI mampu merangkum jutaan buku dalam hitungan detik. […]

  • Akselerasi Digitalisasi Produk Lokal Menuju Naik Kelas

    Akselerasi Digitalisasi Produk Lokal Menuju Naik Kelas

    • calendar_month Rabu, 31 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 264
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Diskop UKM) Kabupaten Garut diwakili Feri Fadzillah, menjadi pemateri dalam kegiatan Talkshow UMKM Berdaya : Kreatif, Digital, dan Siap Bersaing, yang dilaksanakan di SDN 2 Parakan, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Selasa (30/12/2025). Kepala Desa (Kades) Parakan, Rahmat Hidayat, mengapresiasi inisiatif dari mahasiswa KKN Gradasi kelompok 13, dengan mengelar […]

  • Bukit Pasir sebagai Benteng Alami dari Hempasan Tsunami 2.10 Play Button

    Bukit Pasir sebagai Benteng Alami dari Hempasan Tsunami

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle T. Bachtiar, Penulis dan Geolog
    • visibility 1.419
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Samudra Hindia yang membentang luas, seolah berujung di cakrawala, tempat bersalamannya kaki langit dan permukaan laut. Di cakrawala sebelah timur, matahari terbit dan di cakrawala sebelah matahari terbenam, dapat disaksikan setiap menjelang pagi dan pada rembang petang. Kemunculan matahari dan tenggelamnya matahari di cakrawala, menjadi atraksi alamiah yang selalu diburu para wisatawan. Pendataan […]

  • 5 Kebun Teh Terindah di Garut yang Wajib Masuk Daftar Liburan

    5 Kebun Teh Terindah di Garut yang Wajib Masuk Daftar Liburan

    • calendar_month Sabtu, 8 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 80
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut tidak hanya dikenal dengan dodol dan wisata pegunungannya, tetapi juga memiliki hamparan kebun teh yang memanjakan mata. Berada di kawasan dataran tinggi dengan udara sejuk, perkebunan teh di Garut menawarkan pemandangan hijau, suasana tenang, serta jejak sejarah panjang industri teh di Jawa Barat. Bagi pencinta wisata alam, kebun teh bisa menjadi pilihan untuk […]

  • 5 Fakta Asal Usul Sarkanjut Garut, Nama Unik yang Menyimpan Sejarah dan Legenda

    5 Fakta Asal Usul Sarkanjut Garut, Nama Unik yang Menyimpan Sejarah dan Legenda

    • calendar_month Kamis, 30 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 93
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM  – Kabupaten Garut menyimpan banyak nama kampung dan tempat yang unik. Salah satunya adalah Sarkanjut, sebuah kampung sekaligus situ (danau kecil) yang berada di Kampung Sarkanjut, Desa Dungusiku, Kecamatan Leuwigoong. Nama ini kerap mengundang rasa penasaran karena terdengar tidak biasa. Di balik namanya yang unik, Sarkanjut ternyata memiliki sejarah, legenda, dan nilai budaya yang […]

expand_less