Breaking News
dark_mode

Bukan Siswa yang Keras… tapi Belum Tahu Cara Menenangkan Diri

  • account_circle Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
  • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TIGARUT.COM — Saya pernah mendampingi seorang siswa laki-laki.

 

Kalau dilihat sekilas,

orang akan cepat memberi label:

“emosian”, “pembangkang”, bahkan “bermasalah”.

 

Dia mudah sekali meledak.

Hal kecil bisa jadi besar.

 

Pernah suatu kali,

hanya karena temannya ingkar janji,

dia langsung marah besar…

bahkan sampai mengancam lewat pesan.

 

Di waktu lain,

dia terlibat perkelahian—

katanya karena ingin membela temannya.

 

Pernah juga tersangkut kasus merokok.

 

Kalau dilihat dari luar,

semuanya terlihat seperti masalah perilaku.

 

Tapi semakin saya mendampingi,

semakin terlihat sisi lain yang tidak banyak orang tahu.

 

Dia mudah murung.

Cepat merasa putus asa.

Dan sangat takut kehilangan orang yang dekat dengannya.

 

Bahkan ketika harus berpisah dengan teman sebangkunya,

dia terlihat sangat terpukul…

 

Menariknya, di saat yang sama,

dia selalu berusaha terlihat kuat.

Seperti “tidak boleh kalah”.

Seperti harus selalu jadi yang paling berani.

 

Dan di situ saya mulai melihat sesuatu yang berbeda.

 

Saya yakin… masih banyak yang dia pendam.

Terutama tentang hubungannya dengan keluarga.

 

Beberapa kali, saya melihat dia seperti ingin bercerita.

Sudah sampai di ujung kata…

tapi selalu berhenti.

 

Seolah ada sesuatu yang ingin keluar,

tapi belum merasa cukup aman untuk disampaikan.

 

Dari situ saya mulai memahami…

ledakan emosinya bukan sekadar “marah”.

 

Dalam psikologi remaja,

emosi yang meledak seringkali hanyalah lapisan luar.

 

Di baliknya, bisa jadi ada:

rasa takut ditinggalkan,

rasa tidak aman,

atau kebutuhan untuk merasa dihargai.

 

Dan karena belum punya cara mengelola itu,

marah jadi jalan paling cepat.

 

Bukan karena dia ingin membuat masalah,

tapi karena itu satu-satunya cara yang dia tahu.

 

Dari situ saya belajar…

tidak semua siswa yang terlihat “keras” itu kuat.

Kadang justru mereka yang paling butuh diajarkan cara menenangkan diri.

 

Karena pada akhirnya,

yang mereka butuhkan bukan sekadar diingatkan untuk “jangan marah”…

tapi diajarkan bagaimana caranya tenang.

 

“Bagaimana mendampingi siswa yang emosinya mudah meledak?”

 

Setelah memahami bahwa di balik marahnya ada banyak hal yang belum selesai…

saya sadar satu hal:

 

siswa seperti ini tidak butuh dimarahi lebih keras.

Mereka butuh dipahami… tapi tetap dibimbing.

 

Dan jujur, ini tidak mudah.

 

Karena di satu sisi, kita ingin membantu.

Tapi di sisi lain, kita juga harus tetap menjaga batas.

 

Dari proses mendampingi siswa itu,

ada beberapa hal yang pelan-pelan saya pelajari:

 

1. Jangan masuk saat emosinya sedang memuncak

Saat dia sedang marah, menasihati tidak akan masuk.

Yang ada justru semakin memicu.

 

Lebih baik beri jeda.

Tunggu sampai emosinya turun, baru ajak bicara.

 

2. Pisahkan perilaku dan perasaannya

Saya tidak membenarkan tindakannya.

Tapi saya mencoba memahami perasaannya.

 

Kalimat sederhana seperti:

“Bu paham kamu lagi marah… tapi cara ini bukan solusi”

 

👉 Ini penting: tetap tegas, tapi tidak menghakimi.

 

3. Bangun rasa aman, bukan tekanan

Siswa seperti ini sering ingin bercerita…

tapi takut disalahkan.

 

Jadi bukan dipaksa untuk terbuka,

tapi diberi ruang untuk siap.

 

Kadang cukup dengan:

“Ibu di sini kalau kamu mau cerita.”

 

4. Ajarkan cara konkret menenangkan diri

Jangan hanya bilang “jangan marah”

 

Tapi ajarkan:

 

– tarik napas pelan

– menjauh sebentar dari situasi

– atau menulis apa yang dirasakan

 

Hal sederhana, tapi perlu dilatih berulang.

 

5. Konsisten, bukan sekali selesai

Perubahan tidak langsung terlihat.

 

Kadang hari ini berhasil…

besok kembali lagi.

 

Tapi dari situ saya belajar,

yang mereka butuhkan bukan solusi instan,

tapi pendampingan yang konsisten.

 

Karena pada akhirnya,

mendampingi siswa seperti ini bukan tentang “mengubah mereka secepatnya”…

 

tapi tentang menjadi orang yang tetap hadir,

saat mereka sedang belajar memahami dirinya sendiri.

 

Dan itu… proses yang tidak sebentar.

 

Menurut Bapak/Ibu,

bagian mana yang paling menantang saat menghadapi siswa seperti ini?

Pernah menemui siswa dengan karakter seperti ini juga?

Komentar
  • Penulis: Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut

Rekomendasi

  • Inilah Pasar Ceplak, Pusatnya Jajanan dan Kuliner Urang Garut

    Inilah Pasar Ceplak, Pusatnya Jajanan dan Kuliner Urang Garut

    • calendar_month Kamis, 1 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saat berkunjung ke Garut Jawa Barat, tak lengkap jika belum datang ke pusatnya kuliner dan jajanan masyarakat setempat. Terletak di tengah kota, tepatnya di Jalan Siliwangi, Pasar Ceplak menjadi tujuan utama bagi Anda yang menyukai wisata kuliner. Mulai beroperasi mulai dari pukul 16.00-22.00 WIB, Pasar Ceplak merupakan pasar malam yang selalu ramai tiap […]

  • 5 Tempat Wisata Asyik di Garut, Cocok untuk Liburan Alam dan Keluarga

    5 Tempat Wisata Asyik di Garut, Cocok untuk Liburan Alam dan Keluarga

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut dikenal sebagai salah satu destinasi favorit di Jawa Barat yang menawarkan panorama alam lengkap, mulai dari gunung, kawah, hingga air terjun. Udara sejuk dan lanskap pegunungan membuat daerah ini selalu ramai dikunjungi wisatawan, terutama saat akhir pekan dan musim liburan. Berikut lima tempat wisata asyik di Garut yang layak masuk daftar kunjungan: […]

  • Si Kabayan Nulis Berita Maké Tools AI

    Si Kabayan Nulis Berita Maké Tools AI

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Si Kabayan keur diuk ngetéyép di pojok kantor média online. Manéhna keur puyeng sabab kudu nyieun tulisan panjang ngeunaan “Ekonomi Kreatif di Lembur”. Keur kitu, datang babaturanana nu sok mawa béja, Si Lamsijan. “Kabayan, naha bet pusing ngetik? Ayeuna mah aya ‘Jig jépiti’ (ChatGPT)! Manéh tinggal nanya, tulisan langsung jadi sakiceup!” ceuk Lamsijan […]

  • Nah Ini Dia! Keunikan 5 Kecamatan “Ci” di Garut

    Nah Ini Dia! Keunikan 5 Kecamatan “Ci” di Garut

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Dalam rangka memperingati Hari Jadi Garut (HJG) ke-213, Kabupaten Garut mengawali rangkaian acara pokok dengan menghadirkan kegiatan “Ngarawat Ci Garut”, yang mulai dilaksanakan pada 12 Februari 2025. Kegiatan ini menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga dan melestarikan sumber daya air sebagai bagian penting dari kehidupan, sejarah, dan jati diri masyarakat Garut. Nilai tersebut tercermin […]

  • Yuk Kenali Tokoh Intelektual Urang Garut, Yus Rusyana

    Yuk Kenali Tokoh Intelektual Urang Garut, Yus Rusyana

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Prof. Dr. Yus Rusyana dilahirkan di Pameungpeuk, Garut Selatan, pada tanggal 24 Maret 1938. Jenjang pendidikan dasar ia lalui di Sekolah Rakyat Negeri Pameugpeuk (1946-1952).  Kekaguman terhadap sosok guru yang mengajarnya di sekolah menumbuhkan minatnya untuk berkiprah di bidang pengajaran. Ia melanjutkan pendidikan menengah di Sekolah Guru B Negeri 1 Garut (SGBN 1 Garut) […]

  • Yuk Tingkatkan Disiplin dan Etos Kerja di Bulan Ramadan

    Yuk Tingkatkan Disiplin dan Etos Kerja di Bulan Ramadan

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, melaksanakan salat tarawih pertama bulan Ramadan 1447 Hijriah di Masjid Agung Garut, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, pada Rabu malam (18/02/2026). Salat tarawih pertama di Masjid Agung Garut sendiri dipimpin oleh imam yaitu Ketua DKM Masjid Agung Garut, K.H Muhammad Sufina. Momen ini dimanfaatkan Bupati Garut untuk menyampaikan pesan […]

expand_less