Breaking News

Bukan Siswa yang Keras… tapi Belum Tahu Cara Menenangkan Diri

  • account_circle Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
  • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
  • visibility 195
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Saya pernah mendampingi seorang siswa laki-laki.

 

Kalau dilihat sekilas,

orang akan cepat memberi label:

“emosian”, “pembangkang”, bahkan “bermasalah”.

 

Dia mudah sekali meledak.

Hal kecil bisa jadi besar.

 

Pernah suatu kali,

hanya karena temannya ingkar janji,

dia langsung marah besar…

bahkan sampai mengancam lewat pesan.

 

Di waktu lain,

dia terlibat perkelahian—

katanya karena ingin membela temannya.

 

Pernah juga tersangkut kasus merokok.

 

Kalau dilihat dari luar,

semuanya terlihat seperti masalah perilaku.

 

Tapi semakin saya mendampingi,

semakin terlihat sisi lain yang tidak banyak orang tahu.

 

Dia mudah murung.

Cepat merasa putus asa.

Dan sangat takut kehilangan orang yang dekat dengannya.

 

Bahkan ketika harus berpisah dengan teman sebangkunya,

dia terlihat sangat terpukul…

 

Menariknya, di saat yang sama,

dia selalu berusaha terlihat kuat.

Seperti “tidak boleh kalah”.

Seperti harus selalu jadi yang paling berani.

 

Dan di situ saya mulai melihat sesuatu yang berbeda.

 

Saya yakin… masih banyak yang dia pendam.

Terutama tentang hubungannya dengan keluarga.

 

Beberapa kali, saya melihat dia seperti ingin bercerita.

Sudah sampai di ujung kata…

tapi selalu berhenti.

 

Seolah ada sesuatu yang ingin keluar,

tapi belum merasa cukup aman untuk disampaikan.

 

Dari situ saya mulai memahami…

ledakan emosinya bukan sekadar “marah”.

 

Dalam psikologi remaja,

emosi yang meledak seringkali hanyalah lapisan luar.

 

Di baliknya, bisa jadi ada:

rasa takut ditinggalkan,

rasa tidak aman,

atau kebutuhan untuk merasa dihargai.

 

Dan karena belum punya cara mengelola itu,

marah jadi jalan paling cepat.

 

Bukan karena dia ingin membuat masalah,

tapi karena itu satu-satunya cara yang dia tahu.

 

Dari situ saya belajar…

tidak semua siswa yang terlihat “keras” itu kuat.

Kadang justru mereka yang paling butuh diajarkan cara menenangkan diri.

 

Karena pada akhirnya,

yang mereka butuhkan bukan sekadar diingatkan untuk “jangan marah”…

tapi diajarkan bagaimana caranya tenang.

 

“Bagaimana mendampingi siswa yang emosinya mudah meledak?”

 

Setelah memahami bahwa di balik marahnya ada banyak hal yang belum selesai…

saya sadar satu hal:

 

siswa seperti ini tidak butuh dimarahi lebih keras.

Mereka butuh dipahami… tapi tetap dibimbing.

 

Dan jujur, ini tidak mudah.

 

Karena di satu sisi, kita ingin membantu.

Tapi di sisi lain, kita juga harus tetap menjaga batas.

 

Dari proses mendampingi siswa itu,

ada beberapa hal yang pelan-pelan saya pelajari:

 

1. Jangan masuk saat emosinya sedang memuncak

Saat dia sedang marah, menasihati tidak akan masuk.

Yang ada justru semakin memicu.

 

Lebih baik beri jeda.

Tunggu sampai emosinya turun, baru ajak bicara.

 

2. Pisahkan perilaku dan perasaannya

Saya tidak membenarkan tindakannya.

Tapi saya mencoba memahami perasaannya.

 

Kalimat sederhana seperti:

“Bu paham kamu lagi marah… tapi cara ini bukan solusi”

 

👉 Ini penting: tetap tegas, tapi tidak menghakimi.

 

3. Bangun rasa aman, bukan tekanan

Siswa seperti ini sering ingin bercerita…

tapi takut disalahkan.

 

Jadi bukan dipaksa untuk terbuka,

tapi diberi ruang untuk siap.

 

Kadang cukup dengan:

“Ibu di sini kalau kamu mau cerita.”

 

4. Ajarkan cara konkret menenangkan diri

Jangan hanya bilang “jangan marah”

 

Tapi ajarkan:

 

– tarik napas pelan

– menjauh sebentar dari situasi

– atau menulis apa yang dirasakan

 

Hal sederhana, tapi perlu dilatih berulang.

 

5. Konsisten, bukan sekali selesai

Perubahan tidak langsung terlihat.

 

Kadang hari ini berhasil…

besok kembali lagi.

 

Tapi dari situ saya belajar,

yang mereka butuhkan bukan solusi instan,

tapi pendampingan yang konsisten.

 

Karena pada akhirnya,

mendampingi siswa seperti ini bukan tentang “mengubah mereka secepatnya”…

 

tapi tentang menjadi orang yang tetap hadir,

saat mereka sedang belajar memahami dirinya sendiri.

 

Dan itu… proses yang tidak sebentar.

 

Menurut Bapak/Ibu,

bagian mana yang paling menantang saat menghadapi siswa seperti ini?

Pernah menemui siswa dengan karakter seperti ini juga?

  • Penulis: Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • 8 Tips Aman Lewat Tanjakan Panganten Garut. Simak Baik-baik Ya!

    8 Tips Aman Lewat Tanjakan Panganten Garut. Simak Baik-baik Ya!

    • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 318
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Tanjakan Panganten di Garut dikenal sebagai salah satu jalur pegunungan paling menantang. Jalan curam, tikungan tajam, jurang di sisi jalan, serta kabut yang sering turun bikin pengendara wajib ekstra waspada. Biar perjalanan tetap aman, perhatikan tips berikut ini. 1. Pastikan Kendaraan dalam Kondisi Prima Sebelum melintas, cek rem, kopling, ban, dan mesin. Untuk […]

  • 5 Tradisi Menjelang Bulan Ramadhan di Garut

    5 Tradisi Menjelang Bulan Ramadhan di Garut

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 315
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Masyarakat Garut memiliki beragam tradisi khas dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Tradisi-tradisi ini bukan hanya sebagai bentuk persiapan lahir dan batin, tetapi juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga. Berikut lima tradisi yang masih banyak dilakukan di Garut menjelang Ramadhan. 1. Munggahan Munggahan merupakan tradisi makan bersama keluarga, kerabat, atau tetangga sebelum memasuki […]

  • Pemkab Garut Raih Opini “Kualitas Tinggi Tanpa Maladministrasi” dari Ombudsman RI

    Pemkab Garut Raih Opini “Kualitas Tinggi Tanpa Maladministrasi” dari Ombudsman RI

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 193
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut berhasil meraih predikat opini “Kualitas Tinggi Tanpa Maladministrasi” dalam Penilaian Maladministrasi Pelayanan Publik Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Ombudsman Republik Indonesia. Hal tersebut tercantum dalam dokumen Ringkasan Eksekutif Opini Ombudsman RI : Penilaian Madministrasi Pelayanan Publik Tahun 2025, yang diterbitkan di Jakarta, Kamis (29/1/2026). Penilaian tersebut memiliki maksud yakni […]

  • Asyiknya Wisata Healing ke Kawah Kamojang

    Asyiknya Wisata Healing ke Kawah Kamojang

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • account_circle Editorial Tigarut
    • visibility 99
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Kadang-kadang, yang kita butuhkan dalam hidup bukan nasihat. Bukan pula seminar motivasi dengan judul panjang yang membuat kita merasa gagal sebelum seminar dimulai. Kadang kita cuma butuh pergi ke tempat yang udaranya dingin, pemandangannya indah, dan sinyalnya tidak terlalu agresif. Maka suatu pagi, saya memutuskan untuk healing ke Kawah Kamojang. Keputusan itu sebenarnya […]

  • Jalur Berkelok dan Menanjak, 5 Tips Aman dan Nyaman Melintasi Pegunungan Garut Selatan

    Jalur Berkelok dan Menanjak, 5 Tips Aman dan Nyaman Melintasi Pegunungan Garut Selatan

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 166
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut Selatan menyimpan pesona alam yang memikat. Hamparan perbukitan hijau, lembah yang menawan, hingga pantai selatan yang eksotis menjadi daya tarik bagi wisatawan maupun para perantau yang hendak pulang kampung. Namun, keindahan tersebut kerap diiringi tantangan berupa jalan pegunungan yang berkelok, menanjak, dan menurun tajam. Bagi pengendara, melintasi jalur pegunungan bukan sekadar soal sampai […]

  • Yuk Kenali Tokoh Intelektual Urang Garut, Yus Rusyana

    Yuk Kenali Tokoh Intelektual Urang Garut, Yus Rusyana

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 355
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Prof. Dr. Yus Rusyana dilahirkan di Pameungpeuk, Garut Selatan, pada tanggal 24 Maret 1938. Jenjang pendidikan dasar ia lalui di Sekolah Rakyat Negeri Pameugpeuk (1946-1952).  Kekaguman terhadap sosok guru yang mengajarnya di sekolah menumbuhkan minatnya untuk berkiprah di bidang pengajaran. Ia melanjutkan pendidikan menengah di Sekolah Guru B Negeri 1 Garut (SGBN 1 Garut) […]

expand_less