Breaking News

Cerpen “Air Keras di Tengah Malam Jakarta”

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
  • visibility 230
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Malam Jakarta sering terlihat biasa saja. Lampu jalan berdiri seperti penjaga yang kelelahan, angin membawa bau aspal, dan kota raksasa itu pura-pura tidur. Padahal Jakarta jarang benar-benar tidur. Ia hanya menunggu tragedi berikutnya muncul di tikungan jalan.

 

Kamis malam, 12 Maret 2026.

 

Sekitar pukul 23.37 WIB, Andrie Yunus melaju sendirian dengan motor Yamaha Aerox kuning di Jalan Salemba I menuju kawasan Talang. Beberapa menit sebelumnya ia baru keluar dari kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia setelah mengisi podcast. Topiknya tidak ringan. Remiliterisme, hukum, masa depan demokrasi. Hal-hal yang sering terdengar indah di diskusi, tetapi kadang terasa berbahaya di dunia nyata.

 

Di belakangnya, dua orang di atas motor matic muncul dalam rekaman CCTV. Mereka bergerak pelan, searah dengan Andrie, seperti bayangan yang sengaja mengikuti. Beberapa meter kemudian motor itu melewati Andrie, lalu tiba-tiba berputar balik.

 

Gerakannya cepat. Terencana. Beberapa detik kemudian mereka berpapasan. Penumpang belakang mengangkat tangan. Sebuah cairan melayang di udara malam.

 

Lalu semuanya berubah menjadi neraka.

 

Cairan itu menghantam wajah, dada, tangan, dan mata Andrie. Asam sulfat bekerja tanpa ampun. Dalam hitungan detik, bajunya mulai meleleh seperti lilin yang didekatkan ke api.

 

Motor Andrie mendadak berhenti. Ban berdecit keras. Aerox kuning itu jatuh ke pinggir jalan. Andrie ikut terjatuh. Namun rasa sakit datang bahkan lebih cepat daripada tubuh manusia bangkit dari aspal.

 

“Aaaah…!”

 

Jeritan itu pecah di malam yang sepi.

 

Ia berdiri dengan gerakan panik, meraba wajahnya sendiri. Kulitnya terasa terbakar, seperti ada api tak terlihat yang menempel di tubuhnya.

 

“Panas… panas… panas!”

 

Suaranya semakin tinggi.

 

“Air keras! Air keras! Ya Allah… tolong!”

 

Ia membuka bajunya sendiri dengan tangan gemetar. Kain yang menempel di tubuhnya terasa seperti kompor panas. Kulit di dada dan wajahnya mulai memerah, lalu melepuh.

 

Ia mondar-mandir di pinggir jalan, hampir tidak bisa melihat dengan jelas.

 

“Tolooong… tolong!”

 

Jeritannya pecah, histeris, memantul di bawah lampu jalan yang dingin.

 

Di rekaman CCTV, suara itu terdengar sangat jelas. Jeritan manusia yang tiba-tiba diseret ke dalam rasa sakit yang tak terbayangkan.

 

Sementara itu motor para pelaku sudah menghilang. Mereka kabur secepat bayangan yang tidak ingin dikenali.

 

Tinggal Andrie di pinggir jalan. Tubuhnya gemetar. Tangannya memegang wajahnya. Matanya hampir tidak bisa dibuka.

 

Beberapa orang akhirnya berlari mendekat setelah mendengar jeritan itu. Ada yang panik, ada yang mencoba membantu, ada yang hanya berdiri membeku karena tidak siap melihat luka yang begitu brutal.

 

Motor Andrie tergeletak di aspal seperti saksi yang pingsan. Lampu jalan tetap menyala. Malam tetap berjalan.

 

Belakangan dokter mencatat luka bakarnya sekitar 24 persen: wajah, dada, tangan, dan mata. Angka itu terdengar sederhana di laporan medis. Namun angka tidak pernah mampu menggambarkan jeritan manusia di tengah jalan sepi.

 

Ironi tragedi itu terasa pahit. Seorang aktivis dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, yang baru saja berbicara tentang hak asasi manusia, pulang dengan tubuh yang diserang oleh kekerasan paling brutal.

 

Di bawah lampu jalan Salemba malam itu, satu hal terasa jelas, jeritan “tolong… tolong…” yang menggema di jembatan Talang bukan hanya suara seseorang yang kesakitan.

 

Ia terdengar seperti pertanyaan yang dilemparkan ke seluruh negeri, tentang keberanian, tentang kekerasan, dan tentang betapa rapuhnya manusia ketika kegelapan memutuskan untuk datang.

 

Tragedi di tengah malam itu mengingatkan kita, keberanian memperjuangkan keadilan sering dibayar mahal oleh mereka yang takut pada kebenaran. Kekerasan mungkin mampu melukai tubuh, membakar kulit, bahkan mencoba menakut-nakuti suara yang kritis, tetapi ia juga membuka mata banyak orang tentang betapa rapuhnya kemanusiaan jika dibiarkan tunduk pada kebencian. Dari luka yang tragis itu, kita belajar, keberanian tidak selalu terlihat gagah. Kadang ia berdiri sendirian di jalan sepi, tetap bersuara meski dunia mencoba membungkamnya. Sebab pada akhirnya, sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa keras kekerasan terjadi, melainkan dari seberapa kuat masyarakatnya menolak untuk diam ketika kemanusiaan disakiti.

 

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

 

  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Jalur Berkelok dan Menanjak, 5 Tips Aman dan Nyaman Melintasi Pegunungan Garut Selatan

    Jalur Berkelok dan Menanjak, 5 Tips Aman dan Nyaman Melintasi Pegunungan Garut Selatan

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 166
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut Selatan menyimpan pesona alam yang memikat. Hamparan perbukitan hijau, lembah yang menawan, hingga pantai selatan yang eksotis menjadi daya tarik bagi wisatawan maupun para perantau yang hendak pulang kampung. Namun, keindahan tersebut kerap diiringi tantangan berupa jalan pegunungan yang berkelok, menanjak, dan menurun tajam. Bagi pengendara, melintasi jalur pegunungan bukan sekadar soal sampai […]

  • Program BK-mu Selama Ini Cuma Asumsi

    Program BK-mu Selama Ini Cuma Asumsi

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • account_circle Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
    • visibility 155
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Lagi latihan bikin program BK yang insyaallah mendekati bener,, karena selama ini semua aspek pengen dimasukin akhirnya tidak terukur..   Kita mulai dari yang spesifik dulu 3 prioritas layanan, karena di sekolahku anak2nya kurang disiplin, nilainya pada jelek dan sopan santun yg kureng.. kita masukkan prioritas layanan 1. Kurang disiplin (tanggung jawab sosial) […]

  • Inilah 5 Alasan yang Bikin Toko Buku Sepi Pembeli

    Inilah 5 Alasan yang Bikin Toko Buku Sepi Pembeli

    • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 625
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Fenomena ini memang kontradiktif namun nyata. Meski data menunjukkan minat baca atau konsumsi literasi meningkat, toko buku fisik (konvensional) menghadapi tantangan besar karena perubahan perilaku konsumen di era digital. Berikut adalah 5 alasan mengapa minat baca naik tetapi toko buku tetap sepi: Migrasi ke E-commerce dan Marketplace Banyak pembaca beralih membeli buku secara […]

  • Indahnya Leuwi Jurig, Pemandian Alami nan Misterius di Bungbulang Play Button

    Indahnya Leuwi Jurig, Pemandian Alami nan Misterius di Bungbulang

    • calendar_month Rabu, 31 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 368
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Bagi Anda yang suka menantang adrenalin dan belum mengetahui akan liburan kemana akhir tahun ini, bisa mengunjungi Leuwi Jurig. Leuwi Jurig berada di Kampung Rupit, Desa Bojong, Kecamatan Bungbulang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Bagi Anda yang berasal dari Jakarta, Anda bisa menuju Bandung via tol Cileunyi, kemudian ke Kota Garut. Dari sana, dibutuhkan 2-3 […]

  • Mengenal Negeri yang Melahirkan Banyak Jenius Islam (1)

    Mengenal Negeri yang Melahirkan Banyak Jenius Islam (1)

    • calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 113
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Di masa kejayaan Islam dulu banyak melahirkan ilmuwan hebat. Pikiran kalian pasti ilmuwan itu banyak berasal dari Timur Tengah. Ternyata, negeri penghasil para jenius Islam zaman itu, berasal dari Uzbekistan. Negeri yang dicukur Porgugal 5-0 di Piala Dunia. Oh iya, Prancis baru saja mencukur Norwegia 4-1, lalu Irak dibantai Senegal 5-0. Mari kita ungkap […]

  • Dedi Mulyadi dan Wacana Bayar Jalan: Rakyat Jangan Terus Diperas

    Dedi Mulyadi dan Wacana Bayar Jalan: Rakyat Jangan Terus Diperas

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Alimudin Garbiz, Share Creator, Pemerhati Sosial Politik
    • visibility 137
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Dedi Mulyadi melempar wacana penghapusan pajak kendaraan bermotor lalu menggantinya dengan sistem bayar jalan provinsi. Sekilas terdengar modern dan inovatif. Dibungkus dengan istilah “keadilan”: siapa yang sering memakai jalan, dia yang lebih banyak membayar.   Tetapi rakyat tidak hidup dari istilah. Rakyat hidup dari pengeluaran sehari-hari.   Hari ini masyarakat sudah dibebani: harga sembako […]

expand_less