Breaking News

Mitos Gunung Guntur dalam Ingatan Masyarakat Garut Zaman Dahulu

  • account_circle Redaksi Tigarut
  • calendar_month Senin, 14 Sep 2026
  • visibility 37
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Gunung Guntur bukan hanya dikenal karena bentang alamnya yang khas dan sejarah letusannya. Bagi masyarakat Garut, terutama mereka yang tinggal di sekitar kawasan Tarogong, gunung ini juga menyimpan berbagai cerita turun-temurun tentang karuhun, guriang, harimau gaib, pantangan, dan dunia yang tidak kasatmata.

 

Cerita-cerita tersebut tidak semuanya berasal dari zaman yang sama. Sebagian merupakan tradisi Sunda yang lebih tua, sementara sebagian lainnya kemungkinan berkembang pada masa yang lebih kemudian.

 

Maung Bungkeuleukan, harimau yang dipercaya sebagai penampakan gaib

 

Salah satu mitos yang paling dikenal adalah Maung Bungkeuleukan.

 

Dalam bahasa Sunda, maung berarti harimau. Sementara bungkeuleuk berkaitan dengan sesuatu yang tiba-tiba memperlihatkan wujudnya. Dalam kepercayaan masyarakat, Maung Bungkeuleukan digambarkan sebagai harimau gaib yang dapat menampakkan diri secara tiba-tiba.

 

Cerita ini diwariskan secara lisan oleh orang-orang tua kepada anak-anak mereka di sekitar kawasan Gunung Guntur.

 

Salah satu pantangan yang berkaitan dengan cerita tersebut adalah larangan meniup suling ketika berada di Gunung Guntur. Menurut kepercayaan setempat, suara suling dapat mengundang Maung Bungkeuleukan.

 

Menariknya, tidak ada catatan sejarah yang membuktikan keberadaan Maung Bungkeuleukan. Sejarawan Garut Warjita juga menyebut bahwa cerita tersebut tidak tercatat dalam sejarah Gunung Guntur, tetapi memang beredar sebagai cerita turun-temurun di masyarakat.

 

Larangan meniup suling dan bayang-bayang DI/TII

 

Di balik pantangan tersebut terdapat kemungkinan lapisan sejarah yang menarik.

 

Menurut penuturan Ening Maidah, warga tua dari kawasan Pananjung, larangan membuat suara di sekitar Gunung Guntur berkaitan dengan situasi ketika DI/TII masih bergerak di wilayah pegunungan Jawa Barat.

 

Pada masa itu masyarakat, terutama anak-anak, diingatkan agar tidak membuat keributan. Kawasan hutan dan pegunungan digunakan sebagai tempat persembunyian dan pergerakan kelompok bersenjata.

 

Dari sinilah muncul kemungkinan bahwa sebuah pesan praktis:

 

“Ulah ribut di gunung.”

 

kemudian diwariskan dalam bentuk cerita:

 

“Ulah niup suling, engké datang Maung Bungkeuleukan.”

 

Dengan demikian, Maung Bungkeuleukan dapat dibaca bukan hanya sebagai makhluk gaib, tetapi juga sebagai simbol ketakutan masyarakat terhadap sesuatu yang tiba-tiba muncul dari dalam hutan.

 

Namun hubungan langsung antara mitos tersebut dan DI/TII tetap merupakan hipotesis berdasarkan ingatan lisan, bukan fakta sejarah yang telah terbukti secara dokumenter.

 

Guriang, penunggu gunung dalam kepercayaan Sunda

 

Jauh di luar cerita Maung Bungkeuleukan, terdapat konsep yang lebih luas dalam kebudayaan Sunda, yaitu guriang.

 

Guriang dikenal dalam tradisi Sunda sebagai sosok gaib yang berhubungan dengan gunung dan tempat-tempat tertentu. Dalam konteks Gunung Guntur, kepercayaan mengenai guriang bahkan masuk ke dalam karya seni Sunda.

 

Mang Koko menggambarkan Gunung Guntur sebagai tempat yang berkaitan dengan para guriang dan bunga melati dalam tembangnya. Hal tersebut memperlihatkan bahwa Gunung Guntur telah hadir dalam imajinasi budaya Sunda bukan sekadar sebagai gunung, melainkan sebagai tempat yang memiliki kehidupan spiritual tersendiri.

 

Karuhun dan tempat-tempat yang dianggap keramat

 

Cerita Gunung Guntur juga tidak dapat dilepaskan dari konsep karuhun atau leluhur.

 

Dalam tradisi masyarakat sekitar gunung terdapat cerita mengenai tokoh-tokoh leluhur dan tempat yang dianggap memiliki hubungan dengan mereka. Karena itu, gunung dalam pandangan tradisional tidak selalu diperlakukan seperti ruang kosong yang bebas dimasuki dan diperlakukan sesuka hati.

 

Ada aturan tidak tertulis:

 

jangan sompral, jangan merusak, jangan menantang alam, dan jangan merasa paling tahu.

 

Pantangan seperti ini sesungguhnya mengandung pesan sosial sekaligus ekologis: manusia harus menghormati tempat yang dianggap memiliki kekuatan dan menjaga perilakunya ketika memasuki alam.

 

Timbanganten dan jejak legenda lama Garut

 

Lapisan cerita yang lebih tua dapat ditemukan dalam Wawacan Babad Timbanganten.

 

Naskah tersebut menceritakan negeri Timbanganten yang berada di bawah kekuasaan Pajajaran. Tokoh penting di dalamnya antara lain Ratu Pasehan, Maraja Inten Dewata, Prabu Siliwangi, dan Sunan Burung Baok. Naskah dengan kode Plt. 37 tersimpan dalam koleksi Museum Nasional.

 

Balai Bahasa Jawa Barat menyebut bahwa kisah Babad Timbanganten merupakan legenda yang hidup di daerah Garut. Cerita tersebut bahkan pernah diadaptasi oleh Wahyu Wibisana menjadi gending karesmen berjudul Ratu Inten Dewata, yang dipentaskan secara kolosal di Garut pada 1964.

 

Namun perlu dibedakan antara legenda Timbanganten dengan mitos Gunung Guntur. Tidak semua cerita mengenai Timbanganten dapat secara otomatis dianggap sebagai sejarah Gunung Guntur.

 

Antara legenda, kepercayaan dan sejarah

 

Jika seluruh cerita tersebut disusun, tampak bahwa mitos Gunung Guntur sebenarnya merupakan lapisan ingatan masyarakat yang terbentuk dalam waktu panjang.

 

Ada kepercayaan mengenai guriang yang berakar dalam kebudayaan Sunda.

 

Ada kisah tentang karuhun dan tempat keramat.

 

Ada legenda Timbanganten dan Maraja Inten Dewata yang tercatat dalam tradisi naskah.

 

Kemudian ada cerita Maung Bungkeuleukan dan larangan meniup suling yang diwariskan secara lisan.

 

Dan pada lapisan yang lebih baru, terdapat ingatan masyarakat mengenai situasi DI/TII di pegunungan Garut dan Jawa Barat.

 

Karena itu, mitos Gunung Guntur sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai fakta sejarah. Tetapi juga tidak berarti cerita tersebut tidak memiliki nilai sejarah.

 

Mitos adalah bagian dari ingatan masyarakat.

 

Di dalamnya terkadang tersimpan jejak ketakutan, pengalaman, adat, kepercayaan, kondisi politik, dan cara masyarakat masa lalu menjelaskan sesuatu yang belum mereka pahami.

 

Mungkin karena itulah Gunung Guntur sampai sekarang bukan hanya berdiri sebagai gunung di atas tanah Garut.

 

Ia juga hidup sebagai gunung dalam ingatan orang Garut—tempat para karuhun, guriang, harimau gaib, legenda kerajaan, dan berbagai cerita turun-temurun bertemu.

 

 

Sumber

 

1. Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat — Babad Timbanganten, berdasarkan naskah Plt. 37 koleksi Museum Nasional.

 

2. Repositori Kemendikdasmen — Wawacan Babad Timbanganten, naskah Plt. 37.

 

3. Repositori Kemendikdasmen — Ensiklopedi Sastra Sunda, bagian Timbanganten/Wawacan Babad.

 

4. detikJabar — “Maung Bungkeuleukan, Mitos Harimau Gaib di Gunung Guntur Garut”, 3 Agustus 2025.

 

5. detikNews — “Misteri Maung Bungkeuleukan hingga Nenek Penjual Kol di Gunung Guntur Garut”, 2 Januari 2021.

 

6. detikJabar — “Mengenal Guriang, Sosok di Balik Mitos Hantu Gunung Guntur Garut”, 1 April 2026.

 

Catatan: bagian mengenai Maung Bungkeuleukan, guriang, dan hubungan pantangan meniup suling dengan DI/TII merupakan tradisi lisan dan interpretasi, sehingga sebaiknya tidak diperlakukan sebagai fakta sejarah yang sudah terverifikasi.

 

 

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Turunnya Kelas Menengah dan Ancaman Krisis

    Turunnya Kelas Menengah dan Ancaman Krisis

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • visibility 225
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Sebelum pandemi Covid-19, kelas menengah Indonesia adalah mesin konsumsi dan penopang stabilitas ekonomi. Pada 2019, jumlahnya sekitar 57 juta orang. Namun krisis pandemi menghantam keras. Pada 2024 jumlah itu menyusut menjadi 47 juta, dan pada 2026 turun lagi menjadi sekitar 46 juta. Artinya, dalam beberapa tahun saja, sekitar 11 juta orang terlempar dari […]

  • Cerpen “Air Keras di Tengah Malam Jakarta”

    Cerpen “Air Keras di Tengah Malam Jakarta”

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 237
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Malam Jakarta sering terlihat biasa saja. Lampu jalan berdiri seperti penjaga yang kelelahan, angin membawa bau aspal, dan kota raksasa itu pura-pura tidur. Padahal Jakarta jarang benar-benar tidur. Ia hanya menunggu tragedi berikutnya muncul di tikungan jalan.   Kamis malam, 12 Maret 2026.   Sekitar pukul 23.37 WIB, Andrie Yunus melaju sendirian dengan motor […]

  • Cekungan Berair yang Tersebar Luas Itu Bernama Sarkanjut 12.39 Play Button

    Cekungan Berair yang Tersebar Luas Itu Bernama Sarkanjut

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle T. Bachtiar, Penulis dan Geolog
    • visibility 329
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Ketika membahas tentang toponimi, ada saja yang menanyakan secara langsung, atau berkomentar dalam media sosial, walau topik yang dibahas berjauhan dengan yang ditanyakan tersebut. Pertanyaannya itu kalau disingkat begini. Mengapa ada nama tempat yang vulgar, tidak senonoh, bahkan terasa cabul. Penanya mencontohkan toponim Sarkanjut di Kabupaten Garut, yang menurut pandangannya toponim itu tidak sopan, karena berhubungan dengan […]

  • 5 SMA Terfavorit di Garut, Nomor 1 Punya Segudang Prestasi Nasional

    5 SMA Terfavorit di Garut, Nomor 1 Punya Segudang Prestasi Nasional

    • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 58
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM – Memilih Sekolah Menengah Atas (SMA) menjadi salah satu keputusan penting bagi siswa dan orang tua. Setelah menyelesaikan pendidikan SMP, siswa tentu ingin melanjutkan ke sekolah yang mampu mendukung prestasi, mengembangkan bakat, sekaligus mempersiapkan diri menuju perguruan tinggi. Kabupaten Garut memiliki banyak SMA negeri dan swasta dengan karakter serta keunggulan masing-masing. Reputasi sekolah, prestasi […]

  • Sengkarut Dunia Pendidikan

    Sengkarut Dunia Pendidikan

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan
    • visibility 146
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Versi lebih lengkap yang dimuat Kompas Online, kompas.id, Kompas, Kamis, 21 Mei 2026   Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan kebijakan yang diterapkan rezim pendidikan justru acap […]

  • Garut, Surganya Para Penikmat Kopi! Inilah 5 Merek Kopi Garut yang Bikin Bangga Warganya

    Garut, Surganya Para Penikmat Kopi! Inilah 5 Merek Kopi Garut yang Bikin Bangga Warganya

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 490
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Menjelajahi Garut tak lengkap tanpa mencicipi kekayaan aromanya. Kota intan ini bukan sekadar destinasi wisata alam, melainkan rumah bagi biji kopi berkualitas tinggi yang telah mendunia. Dari lereng pegunungan yang subur, hadirlah cita rasa unik yang memadukan tradisi dan inovasi dalam setiap seduhannya. Mari mengenal lebih dekat beberapa merek kopi lokal kebanggaan masyarakat […]

expand_less