Breaking News
dark_mode

Jalan Tangguh Iran

  • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
  • calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TIGARUT.COM — Saudaraku, sejarah tidak pernah menghadiahi Iran jalan yang rata. Negeri itu terus berjalan di gugusan batu-batu rintangan yang dihadirkan zaman, meski masih beruntung mendapat tumpuan akar historis yang kuat: warisan agung peradaban Persia yang terus mengalir dalam urat nadinya.

 

Monarki runtuh, revolusi meledak, lalu lahirlah sebuah republik yang sejak awal dipaksa hidup dalam kepungan. Belum sempat luka mengering, perang delapan tahun datang menyala dari perbatasan. Kota-kota dihujani rudal. Anak-anak tumbuh dengan suara sirene sebagai lagu pengantar tidur. Dunia menyaksikan, tetapi tidak selalu memihak. Namun negeri itu tidak roboh.

 

Iran berkali-kali diguncang. Ancaman militer datang silih berganti. Ketegangan dengan kekuatan-kekuatan besar tak pernah benar-benar reda. Namun negeri itu tetap berdiri, bukan karena tidak pernah terluka, melainkan karena belajar hidup bersama luka yang berulang.

 

Ketika perang usai, ujian tidak berhenti. Embargo datang berlapis-lapis, menghimpit perdagangan, teknologi, dan energi. Pintu-pintu ditutup satu demi satu. Yang diperkirakan banyak orang adalah keruntuhan. Yang terjadi justru sebaliknya: keterpaksaan berubah menjadi kemampuan untuk mencipta.

 

Di bawah tekanan yang terus-menerus itu, kemandirian dipaksa tumbuh. Di laboratorium, kampus, dan bengkel-bengkel industri, mereka belajar membuat apa yang tak lagi bisa dibeli: dari obat-obatan hingga satelit, dari teknologi nuklir sipil hingga drone udara nirawak, dari rekayasa material hingga kedokteran. Kekurangan menjadi guru yang keras, tetapi melahirkan jalan baru.

 

Di balik itu ada kepemimpinan yang ditempa krisis. Kesederhanaan dijaga sebagai laku, integritas sebagai fondasi, dan visi dibangun melampaui siklus politik yang pendek.

 

Yang dibangun bukan hanya figur, melainkan institusi. Bukan ketokohan, melainkan kesinambungan gagasan. Karena itu, ketika satu sosok berganti, arah tidak ikut runtuh.

 

(Lanjut di Kolom Komentar)

Jalan Tangguh Iran

Oleh: Yudi Latif

Saudaraku, sejarah tidak pernah menghadiahi Iran jalan yang rata. Negeri itu terus berjalan di gugusan batu-batu rintangan yang dihadirkan zaman, meski masih beruntung mendapat tumpuan akar historis yang kuat: warisan agung peradaban Persia yang terus mengalir dalam urat nadinya.

Monarki runtuh, revolusi meledak, lalu lahirlah sebuah republik yang sejak awal dipaksa hidup dalam kepungan. Belum sempat luka mengering, perang delapan tahun datang menyala dari perbatasan. Kota-kota dihujani rudal. Anak-anak tumbuh dengan suara sirene sebagai lagu pengantar tidur. Dunia menyaksikan, tetapi tidak selalu memihak. Namun negeri itu tidak roboh.

Iran berkali-kali diguncang. Ancaman militer datang silih berganti. Ketegangan dengan kekuatan-kekuatan besar tak pernah benar-benar reda. Namun negeri itu tetap berdiri, bukan karena tidak pernah terluka, melainkan karena belajar hidup bersama luka yang berulang.

Ketika perang usai, ujian tidak berhenti. Embargo datang berlapis-lapis, menghimpit perdagangan, teknologi, dan energi. Pintu-pintu ditutup satu demi satu. Yang diperkirakan banyak orang adalah keruntuhan. Yang terjadi justru sebaliknya: keterpaksaan berubah menjadi kemampuan untuk mencipta.

Di bawah tekanan yang terus-menerus itu, kemandirian dipaksa tumbuh. Di laboratorium, kampus, dan bengkel-bengkel industri, mereka belajar membuat apa yang tak lagi bisa dibeli: dari obat-obatan hingga satelit, dari teknologi nuklir sipil hingga drone udara nirawak, dari rekayasa material hingga kedokteran. Kekurangan menjadi guru yang keras, tetapi melahirkan jalan baru.

Di balik itu ada kepemimpinan yang ditempa krisis. Kesederhanaan dijaga sebagai laku, integritas sebagai fondasi, dan visi dibangun melampaui siklus politik yang pendek.

Yang dibangun bukan hanya figur, melainkan institusi. Bukan ketokohan, melainkan kesinambungan gagasan. Karena itu, ketika satu sosok berganti, arah tidak ikut runtuh.

Mereka memahami bahwa kekuatan tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari guncangan yang berulang. Daya lenting menjadi watak: patah, tumbuh; hilang, berganti. Seorang ilmuwan gugur, lahir penerusnya. Seorang pemimpin lenyap, muncul figur baru yang sama-sama mumpuni. Satu fasilitas dihancurkan, dibangun kembali dengan pengetahuan yang lebih matang.

Resiliensi di sana bukan sekadar bertahan, tetapi mengubah kehilangan menjadi tenaga untuk melangkah lebih jauh. Sebab yang sulit dihancurkan bukan bangunan, melainkan tekad untuk bangkit.

Kedaulatan dipahami sebagai kemampuan mengambil keputusan tanpa bergantung pada izin pihak lain. Sebab bangsa yang menggantungkan napas ekonominya pada belas kasihan luar akan mudah kehilangan arah ketika dunia berubah wajah.

Karena itu, kemampuan dalam negeri terus ditanam. Tidak semuanya berhasil, tidak semua persoalan selesai. Inflasi, pengangguran, dan tekanan ekonomi tetap menjadi kenyataan yang dihadapi. Persoalan-persoalan sosial—termasuk masalah emansipasi perempuan—masih menjadi tantangan terjal. Namun di balik segala keterbatasan itu, ada tekad untuk tidak menyerahkan masa depan kepada tekanan eksternal.

Pelajaran bagi Indonesia

Berbeda dengan Iran, Indonesia tidak tumbuh dalam rongrongan dan kepungan yang sama, melainkan dalam ruang yang lebih lapang. Tetapi kelapangan itu membawa risiko lain: rasa aman yang berlebihan, ketergantungan yang halus, dan penundaan kemandirian.

Dari sini pelajaran menjadi jelas.

Kemandirian harus menjadi kerja panjang di bidang pangan, energi, teknologi, dan industri strategis.
Institusi harus lebih kuat dari individu, agar arah tidak goyah saat tokoh berganti.
Resiliensi harus menjadi budaya, bukan reaksi—kemampuan belajar dari perubahan, bukan sekadar bertahan darinya.
Dan kepemimpinan harus bersahaja sekaligus berintegritas dan berwawasan jauh, agar kepercayaan dan arah tetap terjaga.

Sebab pada akhirnya, ketangguhan tidak ditentukan oleh kerasnya dunia, melainkan oleh kesungguhan sebuah bangsa membangun dirinya sendiri sebelum terlambat.

Komentar
  • Penulis: Yudi Latif, Direktur Reform Institute

Rekomendasi

  • Giliran Mahasiswa ITB Berotak Mesum, Goyang Erika

    Giliran Mahasiswa ITB Berotak Mesum, Goyang Erika

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Ini ada apa sih dengan mahasiswa kita. Kok pada otak mesum sih (oknum). Sebelumnya ada 16 mahasiswa FH UI, sekarang giliran mahasiswa ITB pula. Amit-amit kalau kena mahasiswa saya. Mari kita ungkap sambil seruput Koptagul, wak!   Selamat datang di era keemasan intelektual Indonesia tahun 2026, di mana mahasiswa dari kampus paling top seperti […]

  • Demi Menyelamatkan Anggaran, PPPK akan Dikorbankan

    Demi Menyelamatkan Anggaran, PPPK akan Dikorbankan

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Berembus kuat, akan ada PHK massal untuk pegawai PPPK. Mereka dipandang paling rasional untuk “dikorbankan” demi penyelamatan anggaran. Benarkah demikian? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak! Semua bermula dari sebuah mahakarya kebijakan bernama UU No. 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah. Isinya sederhana, elegan, dan mematikan. Belanja pegawai maksimal 30% dari […]

  • Reduksi Makna Pendidikan

    Reduksi Makna Pendidikan

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung
    • 0Komentar

    Kritik Epistemologis terhadap Statemen “Kebijakan Penutupan Prodi Berbasis Kebutuhan Industri” TIGARUT.COM — Wacana yang digulirkan oleh petinggi salah satu kementerian terkait penutupan program studi yang dianggap tidak selaras dengan kebutuhan industri merupakan sebuah simplifikasi yang berbahaya atas makna pendidikan. Karena dilontarkan oleh pejabat publik (sekalipun plt), narasi ini mencerminkan kegagalan pengelola negara dalam memahami amanat UUD […]

  • Jejak Sejarah Julukan Garut Kota Intan dari Sukarno untuk Swiss van Java

    Jejak Sejarah Julukan Garut Kota Intan dari Sukarno untuk Swiss van Java

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut bukan sekadar kota sejuk di kaki Gunung Cikuray. Ia bukan hanya hamparan sawah, kebun teh, dan pasar tradisional yang riuh tiap pagi. Garut adalah kota yang pernah diberi mahkota simbolik oleh Presiden pertama Republik Indonesia: “Kota Intan.” Sebuah julukan yang lahir bukan dari brosur pariwisata, tetapi dari kesan mendalam seorang Sukarno terhadap […]

  • Inilah Keindahan Curug Sanghyang Taraje di Balik Hutan Garut

    Inilah Keindahan Curug Sanghyang Taraje di Balik Hutan Garut

    • calendar_month Minggu, 11 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Kabupaten Garut memang selalu menunjukkan pesona alamnya. Bentang alamnya unik, di utara terdiri dari pegunungan sedangkan selatan berhadapan dengan lautan. Gunung Papandayan dan berbagai pantainya yang menawan. Kota Dodol ini juga punya berbagai macam curug, salah satunya Curug Sanghyang Taraje. Curug yang berada di Kampung Kombongan, Desa Pakenjeng, Kecamatan Pamulihan, Garut, Jawa Barat […]

  • Inilah Pasar Ceplak, Pusatnya Jajanan dan Kuliner Urang Garut

    Inilah Pasar Ceplak, Pusatnya Jajanan dan Kuliner Urang Garut

    • calendar_month Kamis, 1 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saat berkunjung ke Garut Jawa Barat, tak lengkap jika belum datang ke pusatnya kuliner dan jajanan masyarakat setempat. Terletak di tengah kota, tepatnya di Jalan Siliwangi, Pasar Ceplak menjadi tujuan utama bagi Anda yang menyukai wisata kuliner. Mulai beroperasi mulai dari pukul 16.00-22.00 WIB, Pasar Ceplak merupakan pasar malam yang selalu ramai tiap […]

expand_less