Misteri Tato di Tubuh Korban: Kunci Motif Perbuatan Taufik?
- account_circle Nurul Indra, Mantan Jurnalis, Asisten Peneliti
- calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Misteri yang masih berputar-putar di kepalaku dari kasus Taufik Hidayat ini tentu saja soal MOTIF.
Kenapa Taufik melakukan itu?
Aku yakin, banyak dari kita juga penasaran. Karena semakin banyak detail kasus ini terungkap, semakin sulit dipahami dengan logika orang kebanyakan.
Mengetahui motif Taufik ini sangat penting. Nanti aku kasih tahu apa saja hal penting itu, di tulisanku berikutnya.
Kita bahas dari misteri fakta yang paling mencengangkan dulu. Dari semua detail yang beredar, ada satu hal yang menurutku sangat menarik untuk diperhatikan :
Tato di tubuh korban. Ada tattoo di tangan dan dada korban. Itu faktanya.
Masalahnya, korban bilang tattoo itu bukan dibuat sendiri olehhnya, bukan dibuat sebelum bersama Taufik.
Tatto itu dibuat saat korban bersama Taufik, di luar kehendaknya.
Dan, sampai hari ini, aku masih penasaran dengan satu hal yang mungkin terdengar sepele:
Kapan tato itu dibuat?
Karena menurutku, jawaban pertanyaan itu bisa membantu menjelaskan motif dan pola hubungan yang terjadi di antara mereka.
Bayangkan, jika korban ditatto saat kondisi fisiknya masih prima. Apa yang dikatakan Taufik sehingga si korban nurut? Apakah korban dibujuk? Dimanipulasi?
Diyakinkan bahwa itu adalah bukti cinta?
Tapi, jika tatto itu dibuat keetika kondisi fisik korban sudah melemah, wajar kalau korban nurut. Timeline ini penting.
Bukan karena aku ingin mengorek kehidupan pribadi korban. Tapi karena detail kecil seperti ini kadang bisa menjadi petunjuk untuk memahami bagaimana proses pengendalian itu terjadi.
Bayangkan sebuah skenario adegan sepasang kekasih. Ketika seorang pria menatap mata wanitanya. Sambil mengatakan kalimat ini dengan sungguh-sungguh :
“Aku mencintaimu, menginginkanmu jadi milikku. Aku nggak mau kamu jadi milik orang lain. Kalau kamu benar-benar cinta aku, buktikan kalau kamu mau jadi milikku sepenuhnya. Aku mau ada tatto namaku ti tubuhmu,”.
Aku yakin, sebagian wanita langsung berbunga-bunga dan melambung sampai ke awan mendengar pria yang kita cintai mengatakan itu. Mendengar kita begitu dibutuhkan dan diinginkan.
Apalagi jika kita memang orang baik yang mudah merasa iba atau terbiasa mendahulukan perasaan orang lain daripada dirinya sendiri.. Saat itu juga muncul rasa kasihan, nggak mau membuat pria yang kita cintai dan begitu menginginkan kita itu terluka karena penolakan kita, karena takut kehilangan kita.
Di situlah kadang batas antara cinta dan kontrol mulai menjadi kabur. Karena itu aku merasa tato ini mungkin bukan sekadar tato.
Bisa jadi itu adalah simbol. Simbol yang mengubah posisi korban dari “pasangan” menjadi “milik”. Pelaku merasa memiliki hak atas tubuh orang lain.
Kalau benar demikian, berarti kita sedang melihat sesuatu yang lebih dari sekadar perlakuan yang tidak wajar. Kita sedang melihat upaya mengubah manusia menjadi milik.
Dalam berbagai kasus hubungan abusif, ada pola yang mirip dengan apa yang sering disebut sebagai possessive branding. Pelaku berusaha menempelkan tanda, identitas, atau simbol tertentu pada korban sebagai cara menunjukkan bahwa korban adalah bagian dari dirinya. Korban tidak lagi diperlakukan sebagai manusia yang berdiri sendiri.
Korban diperlakukan sebagai properti.
Dan kalau dugaan itu benar, maka kita mungkin sedang melihat sesuatu yang dalam psikologi dikenal sebagai :
Coercive Control.
Istilah yang dipopulerkan oleh psikolog Evan Stark untuk menggambarkan pola hubungan ketika seseorang tidak hanya melakukan kekerasan, tetapi juga berusaha menguasai kehidupan pasangannya secara menyeluruh.
Dalam coercive control, tujuan utamanya sering kali bukan melukai. Tujuannya adalah mengendalikan. Mengatur. Menguasai. Membuat korban kehilangan kebebasan untuk menentukan hidupnya sendiri.
Karena itu, yang menarik dari tato bukan stigmanya. Melainkan pesan psikologis yang mungkin ada di baliknya.
“Tubuhmu bukan lagi milikmu.”
Sekarang aku jadi lebih paham kenapa banyak orang kesulitan memahami tindakan Taufik. Karena kebanyakan dari kita berpikir dengan cara yang sehat.
Kita melihat pasangan sebagai manusia yang kita cintai. Bukan sebagai properti. Bukan sebagai benda. Bukan sebagai sesuatu yang bisa kita miliki sepenuhnya.
Makanya banyak yang bertanya: “Memangnya apa untungnya melakukan semua itu?”
Pertanyaan itu masuk akal. Karena bagi orang normal, tidak ada untungnya.
Tapi bagi orang yang sangat membutuhkan kontrol, rasa berkuasa itu sendiri bisa menjadi tujuan.
Dan ini juga alasan kenapa aku kurang setuju kalau kasus ini langsung disamakan dengan hubungan dominant-submissive atau Sado dan Maso. Dalam hubungan seperti itu ada consent, ada kesepakatan, ada batas yang jelas dan kedua pihak punya hak untuk menghentikannya.
Sedangkan dalam kasus ini, korban sendiri menyatakan penuh dendam terhadap pelaku dan ingin pelaku dihukum seberat-beratnya. Itu menunjukkan ada luka yang sangat dalam di sana. Bukan merasa senang.
Perbuatan Taufik ini memang bikin rasa penasaran terus berputar di kepala. Masa sih, ada laki-laki yang ingin memiliki seorang wanita tapi bukan untuk hidup bahagia bersama?
Pertanyaan itu sebenarnya tidak aneh. Karena kebanyakan dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa ketika seseorang mencintai, ia akan menjaga. Karena itu banyak orang kesulitan memahami kasus ini.
Padahal, ide tentang manusia yang ingin menguasai manusia lain sampai kehilangan kebebasannya bukanlah sesuatu yang baru. Kalau pernah menonton film seperti The Invisible Man, You, Intrusion, Sleeping with the Enemy, Berlin Syndrome atau Fresh, mungkin kalian akan lebih mudah memahami apa yang sedang mencoba kupikirkan.
Bukan karena kasus Taufik sama persis dengan film-film itu. Tetapi karena film-film tersebut memperlihatkan satu hal yang sama:
Bahwa ada orang yang tidak mencari hubungan. bAda orang yang mencari kontrol. Ada orang yang ingin memiliki manusia lain seperti memiliki barang.
Di kehidupan nyata juga ada beberapa kejadian yang mirip. Ada kasus seorang ayah yang mengurung putrinya sendiri selama bertahun-tahun di ruang bawah tanah rumahnya, seorang pria yang mengurung tiga perempuan selama sekitar satu dekade dan kasus lain di luar Indonesia yang pernah viral.
Pada akhirnya, kita memang belum tahu pasti apa motif Taufik. Apakah kebutuhan mengontrol? Apakah obsesi? Apakah hal yang di luar batas? Apakah kombinasi semuanya?
Apakah tattoo itu bisa menjadi kunci jawabannya?
Aku tidak tahu.
- Penulis: Nurul Indra, Mantan Jurnalis, Asisten Peneliti
