Breaking News

Reduksi Makna Pendidikan

  • account_circle Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung
  • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
  • visibility 131
  • print Cetak

Kritik Epistemologis terhadap Statemen “Kebijakan Penutupan Prodi Berbasis Kebutuhan Industri”

TIGARUT.COM — Wacana yang digulirkan oleh petinggi salah satu kementerian terkait penutupan program studi yang dianggap tidak selaras dengan kebutuhan industri merupakan sebuah simplifikasi yang berbahaya atas makna pendidikan. Karena dilontarkan oleh pejabat publik (sekalipun plt), narasi ini mencerminkan kegagalan pengelola negara dalam memahami amanat UUD 1945 yang secara eksplisit menugaskan negara untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”, bukan sekadar “mempekerjakan kehidupan bangsa”.

 

Ketika sebuah institusi pendidikan tinggi mengorientasikan seluruh aktivitasnya murni untuk menyuplai lapangan pekerjaan, maka institusi tersebut sejatinya telah kehilangan ruh akademisnya dan mengalami degradasi wujud menjadi sekadar balai pelatihan kerja (BLK). Pandangan utilitarian ini tidak hanya mereduksi esensi manusia pada aspek “labor” (pekerja) dan “work” (pekerjaan) semata, tetapi juga merampas ruang bagi “role-play” (peran) dan “action”, yakni kebebasan, tanggung jawab, dan kemungkinan terjadinya pembaruan sosial (social transformation) di tengah masyarakat.

 

Sekalipun kata “industri” dapat dimaknai secara luas, kelemahan paling fundamental dari argumen “kebutuhan industri” adalah asumsi bahwa industri memiliki kepastian arah. Kenyataannya, industri sendiri sering kali belum mengetahui ke mana arah masa depannya. Misalnya, laporan dari lembaga global seperti “World Economic Forum” dan “McKinsey & Company” secara konsisten mengingatkan bahwa banyak pekerjaan masa depan yang saat ini bahkan belum eksis.

 

Oleh karena itu, jika kampus dipaksa untuk sibuk menyesuaikan diri dengan trend kebutuhan industri hari ini, institusi pendidikan sejatinya sedang menyiapkan lulusan untuk sebuah dunia yang sudah lewat dan usang. Baik itu konsep yang bersifat “market-driven” (dikendalikan pasar) maupun “market-driving” (mengendalikan pasar), keduanya tetap terjebak dalam logika sempit yang sama, yakni menempatkan pasar sebagai penentu kebenaran tunggal.

 

Dalam logika pasar yang terkadang kehilangan kompas ini, disiplin ilmu humaniora selalu menjadi korban pertama karena dianggap tidak praktis. Program studi seperti Filsafat, Sejarah, Sastra, Antropologi, hingga studi agama-agama serta Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir terancam ditutup. Padahal ilmu-ilmu inilah memiliki posisi esensial dalam membangun kecakapan berpikir, kekuatan mentalitas, kematangan bersikap, dan kejelian memahami warisan budaya dan peradaban. Tanpa disiplin ilmu tersebut, sistem pendidikan akan kehilangan arah dan gagal melahirkan manusia yang holistik.

 

Manusia seutuhnya hanya bisa dibentuk jika negara menjamin keseimbangan pendidikan dan pembinaan antara “Heart” (akhlak karimah dan integritas moral), “Head” (daya pikir dan kekayaan pengetahuan), dan “Hand” (keterampilan dan kecakapan teknis). Pada tataran normatif, acuannya tersedia, namun pada tataran praktisnya seakan “ngeblur” begitu saja. Kehilangan program studi dasar dan humaniora berarti mematikan dimensi “Heart” dan “Head”, menyisakan generasi yang hanya memiliki “Hand” (skill) untuk menjadi sekrup-sekrup mekanis di dalam mesin industri.

 

Pada akhirnya, “ancaman” penutupan program studi ini hanyalah jalan pintas yang salah diagnosis. Masalah utama pendidikan tinggi di Indonesia sesungguhnya bersarang pada tata kelola yang masih menyisakan “bolong-bolong”. Menjamurnya program studi sering kali didorong oleh latah tren, tingginya peminat, dan orientasi pemasukan finansial, bukan didasari oleh sebuah visi pendidikan yang kokoh. Menutup program studi dari atas ibarat memotong daun tanpa pernah menyentuh akar masalahnya.

 

Hal yang sangat dibutuhkan saat ini bukanlah penutupan sepihak berdasarkan kacamata industri, melainkan kebijakan tata kelola (termasuk pendanaan) berbasis kualitas, kurikulum yang lentur, serta keberanian negara untuk menjaga ilmu yang mungkin tidak “laku” dijual namun mutlak diperlukan. Kampus diharapkan dipertahankan fungsinya untuk melahirkan manusia yang mampu berpikir, menilai, dan membentuk zamannya sendiri, bukan hanya melatih tenaga kerja yang terombang-ambing perubahan zaman.

  • Penulis: Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • 5 Uniknya Kejuaraan Renang Juara Ngojay Kadua 2026

    5 Uniknya Kejuaraan Renang Juara Ngojay Kadua 2026

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 92
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Kejuaraan Renang Juara Ngojay Kadua 2026 menjadi salah satu ajang olahraga yang menarik perhatian masyarakat. Digelar di GOR Akuatik Talaga Bodas, Kabupaten Garut, kompetisi ini tidak hanya menjadi arena adu kemampuan para atlet muda, tetapi juga menjadi wadah pembinaan dan pencarian bibit unggul cabang olahraga renang. Di balik kemeriahannya, terdapat sejumlah fakta menarik yang […]

  • Rak Buku Versus Rak Barbell, Jadi Mahasiswa Berkeringat dengan Kata

    Rak Buku Versus Rak Barbell, Jadi Mahasiswa Berkeringat dengan Kata

    • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
    • account_circle Sukron Abdilah
    • visibility 1.321
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Aku dulu mengira pencerahan hidup hanya bisa ditemukan di antara tumpukan buku tebal di perpustakaan kampus. Tempat itu suci—udara dingin, suara langkah pelan, dan kadang wangi kopi sachet dari tas teman yang sembunyi-sembunyi nyeduh di pojokan. Aku betah berlama-lama di sana, bukan karena rajin, tapi karena perpustakaan adalah satu-satunya tempat di kampus yang […]

  • 5 Lomba Agustusan Khas Garut yang Seru dan Sarat Budaya

    5 Lomba Agustusan Khas Garut yang Seru dan Sarat Budaya

    • calendar_month Senin, 17 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • visibility 52
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Memeriahkan Hari Kemerdekaan 17 Agustus tak harus selalu dengan lomba makan kerupuk atau balap karung. Di Garut, semangat Agustusan bisa dipadukan dengan kaulinan barudak lembur dan permainan tradisional yang menjadi bagian dari kekayaan budaya lokal. Kabupaten Garut sendiri memiliki beragam permainan rakyat seperti gatrik, galah, dodombaan, sigug hingga konclong. Berikut lima ide lomba […]

  • Takzim pada Kyai

    Takzim pada Kyai

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • visibility 139
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saya takzim pada Pak Kyai ini. Self-awareness, tahu diri, meneduhkan dan memanusiawikan diri. Fokusnya ke diri. Begitu pun semestinya dengan semua ormas Islam. Banyak dari kita suka sok-sok an, ingin memperbaiki ini itu, padahal mungkin kebanyakan kita hanya menitipkan diri untuk hidup didalamnya dan justru kitalah yang diuntungkan oleh organisasi itu. Kalau semua […]

  • Sambut Lailatul Qadar, 5 Masjid di Garut yang Hidupkan I’tikaf 10 Malam Terakhir Ramadhan

    Sambut Lailatul Qadar, 5 Masjid di Garut yang Hidupkan I’tikaf 10 Malam Terakhir Ramadhan

    • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 263
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Sepuluh malam terakhir Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Masjid-masjid mulai dipenuhi jamaah yang ingin menghidupkan malam dengan i’tikaf, qiyamul lail, tilawah Al-Qur’an, dan doa. Pada malam-malam inilah umat Islam berharap dipertemukan dengan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Di Kabupaten Garut, sejumlah masjid menjadi tempat berkumpulnya jamaah yang ingin memaksimalkan […]

  • Gagasan KH Anwar Musaddad dalam Pendidikan Generasi Bangsa

    Gagasan KH Anwar Musaddad dalam Pendidikan Generasi Bangsa

    • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 545
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Kehadiran KH Anwar Musaddad di panggung sejarah Indonesia telah membawa spirit tersendiri. Ia dapat dipandang sebagai salah orang yang memiliki kontribusi besar dalam mencetak generasi bangsa. Melalui tangan dinginnya telah lahir sejumlah ulama, ilmuwan, politikus, dan birokrat. Kiprahnya tidak hanya di dalam negeri. Kapasitasnya sebagai tokoh juga diakui di luar negeri. Hal itu […]

expand_less