Breaking News

Asal Usul Kecamatan Peundeuy Garut Menurut Cerita Rakyat

  • account_circle Redaksi Tigarut
  • calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
  • visibility 7
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Peundeuy merupakan salah satu wilayah di Garut Selatan yang memiliki bentang alam perbukitan serta kehidupan masyarakat Sunda yang kuat. Di balik nama wilayahnya, terdapat cerita-cerita yang diwariskan secara turun-temurun mengenai leluhur, tempat keramat, dan perjalanan masyarakat pada masa lampau.

 

Namun perlu dicatat, cerita rakyat berbeda dengan sejarah administratif. Kisah yang berkembang di masyarakat tidak seluruhnya dapat dibuktikan melalui dokumen tertulis, sehingga tulisan berikut ditempatkan sebagai tradisi lisan dan cerita rakyat, bukan sebagai fakta sejarah yang sudah terverifikasi.

 

Asal nama Peundeuy

 

Salah satu penafsiran yang berkembang dalam tradisi toponimi Sunda menghubungkan kata peundeuy dengan nama tumbuhan. Dalam bahasa Sunda, peundeuy dikenal sebagai salah satu sebutan untuk tumbuhan yang berkaitan dengan kedawung/petai. Nama tumbuhan memang sering digunakan masyarakat Sunda sebagai nama tempat.

 

Karena itu, terdapat kemungkinan bahwa nama Peundeuy berkaitan dengan keadaan alam pada masa lalu, ketika tumbuhan tersebut banyak dijumpai di kawasan itu.

 

Meski demikian, belum ditemukan sumber tertulis yang cukup kuat untuk memastikan bahwa inilah satu-satunya asal-usul nama Peundeuy Garut.

 

Jejak para leluhur

 

Cerita rakyat di kawasan Garut Selatan juga memperlihatkan adanya hubungan antara Peundeuy dengan kisah para karuhun yang hidup dalam ingatan masyarakat.

 

Salah satu cerita mengenai leluhur Dangiang, Banjarwangi, menyebut tokoh Nu Agung Tapa Seda Sakti Batara Turus Bawa beserta keturunannya. Dalam silsilah yang diceritakan secara turun-temurun, Sanghyang Resik Rarang disebut mempunyai tiga keturunan, salah satunya adalah Eyang Bungsu atau Eyang Lebe, yang dipercaya dimakamkan di Kampung Dukuh, Desa Toblong, Kecamatan Peundeuy.

 

Kisah tersebut menarik karena menunjukkan bahwa wilayah Peundeuy berada dalam ruang budaya dan jaringan cerita leluhur masyarakat Garut Selatan, yang juga mencakup Dangiang, Banjarwangi, Singajaya, dan daerah sekitarnya.

 

Toblong dan tradisi karuhun

 

Bagi masyarakat Sunda, makam leluhur sering kali bukan sekadar tempat pemakaman. Makam tertentu dapat menjadi puseur carita, tempat masyarakat mengingat perjalanan para karuhun dan asal-usul suatu daerah.

 

Keberadaan makam yang dipercaya sebagai makam Eyang Bungsu/Eyang Lebe di Toblong menjadi salah satu bagian dari tradisi tersebut. Sumber yang memuat kisah ini juga menegaskan bahwa kisah tersebut merupakan bagian dari sejarah/tradisi leluhur yang berkembang di masyarakat, sehingga perlu dibaca sebagai cerita lisan yang masih memerlukan penelitian sejarah lebih lanjut.

 

Peundeuy sebagai wilayah administratif

 

Berbeda dengan cerita rakyat mengenai asal-usulnya, sejarah administratif Kecamatan Peundeuy memiliki dasar dokumen yang jelas.

 

Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1988, Pemerintah Republik Indonesia secara resmi membentuk Kecamatan Peundeuy di Kabupaten Daerah Tingkat II Garut.

 

Pada saat pembentukannya, Kecamatan Peundeuy terdiri atas lima desa:

 

Desa Peundeuy

 

Desa Toblong

 

Desa Pangrumasan

 

Desa Saribakti

 

Desa Sukanagara

 

Kelima desa tersebut sebelumnya merupakan bagian dari Kecamatan Singajaya.

 

Dalam perkembangan berikutnya, Kecamatan Peundeuy menjadi wilayah administratif yang mencakup enam desa. Data BPS Kabupaten Garut saat ini mencatat Peundeuy sebagai salah satu kecamatan di Kabupaten Garut.

 

Antara legenda dan sejarah

 

Dengan demikian, kisah asal-usul Peundeuy dapat dilihat dari dua sisi.

 

Pertama, menurut cerita rakyat, nama Peundeuy kemungkinan berhubungan dengan lingkungan alam dan tumbuhan yang dahulu dikenal masyarakat. Di wilayah sekitarnya juga berkembang kisah tentang para karuhun, termasuk cerita Eyang Bungsu/Eyang Lebe di Toblong.

 

Kedua, menurut sejarah administratif, Peundeuy secara resmi menjadi kecamatan pada tahun 1988, setelah sebelumnya menjadi bagian dari Kecamatan Singajaya.

 

Cerita-cerita tersebut memperlihatkan bahwa sejarah sebuah daerah tidak selalu hanya tersimpan dalam arsip. Sebagian juga hidup melalui nama tempat, makam leluhur, pantangan, kisah perjalanan karuhun, serta cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.

 

> Peundeuy bukan hanya sebuah nama kecamatan di Garut Selatan. Di balik nama tersebut terdapat bentang alam, jejak permukiman, serta cerita para karuhun yang masih hidup dalam ingatan masyarakat. Antara sejarah tertulis dan cerita rakyat, keduanya menjadi bagian dari perjalanan panjang Peundeuy.

 

Catatan: Untuk penelitian sejarah yang lebih mendalam, kisah mengenai asal nama Peundeuy dan para karuhun di Toblong sebaiknya dibandingkan dengan naskah/silsilah lokal, keterangan juru kunci makam, sesepuh kampung, peta lama, serta arsip kolonial, agar bagian yang merupakan legenda dapat dibedakan dari fakta sejarah.

 

Sumber

 

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 25 Tahun 1988 tentang Pembentukan Kecamatan Peundeuy di Kabupaten Garut.

 

Badan Pusat Statistik Kabupaten Garut, Kecamatan Peundeuy Dalam Angka 2025.

 

Pikiran Rakyat Garut, tulisan mengenai jejak leluhur Dangiang dan Eyang Bungsu/Eyang Lebe di Toblong, Peundeuy.

 

Yayasan Salatina Nasaba Rayya, Jejak Sejarah Leluhur Masyarakat Dangiang Banjarwangi.

 

 

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Nah, Ini Dia! Tips Berwisata Aman Bareng Anak di Musim Hujan

    Nah, Ini Dia! Tips Berwisata Aman Bareng Anak di Musim Hujan

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 554
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM – Musim hujan sering dianggap kurang ideal untuk berlibur, terutama bagi keluarga yang membawa anak. Cuaca yang tidak menentu, jalan licin, hingga risiko anak mudah sakit menjadi kekhawatiran tersendiri. Meski begitu, liburan tetap bisa berjalan aman dan menyenangkan jika dipersiapkan dengan baik. Langkah Pertama Yang perlu diperhatikan adalah pemilihan destinasi wisata. Hindari lokasi yang rawan […]

  • ‎Bupati Garut Dorong UMKM Jadi Supplier Utama Melalui Hilirisasi Kedelai

    ‎Bupati Garut Dorong UMKM Jadi Supplier Utama Melalui Hilirisasi Kedelai

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 251
    • 0Komentar

    TI‎GARUT.COM, Tarogong Kidul – Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, membuka kegiatan “Program Kick Off Pemberdayaan UMKM dan Kelompok Masyarakat Sebagai Supplier Program Makan Bergizi Gratis (MBG)”. Kegiatan tersebut berlangsung di Pabrik PT Mandala 525 (MDL 525), Jalan Guntur Melati, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Rabu (21/1/2026). ‎Bupati Garut menyampaikan bahwa inisiatif ini merupakan bentuk pengembangan […]

  • Umat Islam dan Kesadaran Ekologi yang Minimalis

    Umat Islam dan Kesadaran Ekologi yang Minimalis

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Ahmad Gibson al-Bustomi, Dosen Filsafat dan Teologi
    • visibility 344
    • 0Komentar

    “Dan tidaklah aku utus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (al-anbiya:107) TIGARUT.COM — Tidaklah perlu untuk membuka dan membolak-balik lembaran al-Qur’an untuk memastikan “doktrin” Islam tentang kemestian untuk memperhatikan dan perduli terhadap kelestarian lingkungan hidup (alam). Karena, salah satu tujuan utama kehadiran Islam di muka bumi ini adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam. Lebih dari sekedar […]

  • Mengenal Surak Ibra: Seni Perlawanan yang Menggetarkan dari Garut 

    Mengenal Surak Ibra: Seni Perlawanan yang Menggetarkan dari Garut 

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 369
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Surak Ibra merupakan kesenian tradisional asli dari Kampung Sindangsari, Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut. Lebih dari sekadar tarian, kesenian ini adalah simbol keberanian, solidaritas, dan perlawanan masyarakat Garut terhadap kolonialisme. Kesenian ini diciptakan oleh Raden Ibra Gadug sekitar tahun 1910. Pada masa itu, Surak Ibra digunakan sebagai alat diplomasi budaya untuk menyindir kesewenang-wenangan […]

  • Liburan ke Kebun Teh Cisaruni? Jangan Lewatkan 5 Aktivitas Ini!

    Liburan ke Kebun Teh Cisaruni? Jangan Lewatkan 5 Aktivitas Ini!

    • calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • visibility 59
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM – Kebun Teh Cisaruni di Kecamatan Cikajang menjadi salah satu destinasi wisata alam yang menawarkan udara sejuk, panorama hijau, dan suasana tenang khas pegunungan Garut. Selain menikmati keindahan hamparan tanaman teh, pengunjung juga bisa mencoba berbagai aktivitas seru yang membuat liburan semakin berkesan. Berikut lima aktivitas yang sayang untuk dilewatkan saat berkunjung ke Kebun […]

  • Menjejaki Heritage Muhammadiyah di Garut

    Menjejaki Heritage Muhammadiyah di Garut

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle SOPAAT R SELAMET
    • visibility 1.356
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Di sebuah sudut kota Garut, berdiri sebuah bangunan sederhana yang dikelilingi pepohonan rindang. Dari luar, bangunan itu tampak seperti rumah biasa, namun sesungguhnya ia menyimpan sejarah panjang: di sinilah Muhammadiyah pertama kali menancapkan pengaruhnya di Priangan Timur. Garut, yang dikenal dengan julukan “Swiss van Java”, menjadi salah satu saksi awal bagaimana gagasan pembaruan […]

expand_less