Makam Pangeran Papak Cinunuk
- account_circle Redaksi Tigarut
- calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
- visibility 30
- print Cetak

Jejak Ulama dan Warisan Sejarah di Wanaraja, Garut
TIGARUT.COM — Mengenal Raden Wangsa Muhammad, Tokoh yang Dikenang karena Keteladanan dan Sikap Tidak Membeda-bedakan Sesama
Di tengah suasana hijau perbukitan Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, berdiri sebuah kompleks pemakaman yang memiliki nilai sejarah dan religi bagi masyarakat setempat. Tempat tersebut dikenal sebagai Makam Pangeran Papak atau Makam Keramat Cinunuk.
Makam ini menjadi salah satu tujuan ziarah masyarakat dari berbagai daerah sekaligus menyimpan kisah tentang perjalanan penyebaran Islam dan warisan budaya di wilayah Garut.
Raden Wangsa Muhammad, Sosok yang Dikenal sebagai Pangeran Papak
Pangeran Papak dikenal dengan nama Raden Wangsa Muhammad. Berdasarkan sejumlah sumber sejarah lokal, beliau merupakan tokoh yang dipercaya masyarakat sebagai salah satu penyebar agama Islam di kawasan Wanaraja dan sekitarnya.
Dalam buku Sajarah Asal-usul Balubur Limbangan anu Ngarunday ka Djayadiwangsa (1988), Pangeran Papak disebut sebagai putra Raden Kyai Juari. Silsilah keluarganya dikaitkan dengan keturunan bangsawan Balubur Limbangan dan Prabu Siliwangi.
Namun, informasi mengenai silsilah dan perjalanan hidup Pangeran Papak juga bersumber dari tradisi lisan serta cerita yang diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, sebagian kisah tersebut perlu dipahami dalam konteks sejarah lokal dan kepercayaan masyarakat.
Makna Nama Papak
Salah satu hal menarik dari sosok Pangeran Papak adalah makna di balik gelar yang disandangnya.
Menurut penuturan sejumlah keturunannya yang diwawancarai NU Online Jabar, kata papak dalam bahasa Sunda dapat dimaknai sebagai rata, setara, atau tidak membeda-bedakan.
Sifat tersebut dikaitkan dengan sikap Raden Wangsa Muhammad yang menghormati setiap orang tanpa memandang status sosialnya.
Pesan moral yang diwariskan dari pemaknaan tersebut adalah pentingnya memperlakukan sesama manusia secara adil dan penuh penghormatan.
Makna ini berbeda dengan cerita populer yang mengaitkan sebutan Papak dengan bentuk jari tangan. Menurut keterangan keluarga keturunannya, makna kesetaraan merupakan penjelasan yang mereka yakini mengenai asal-usul gelar tersebut.
Makam Keramat yang Menjadi Tujuan Ziarah
Makam Pangeran Papak berada di Kampung Cinunuk Hilir, Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut.
Kompleks makam ini telah lama dikenal sebagai tempat ziarah. Pengelolaannya diwariskan secara turun-temurun oleh keluarga keturunan Pangeran Papak.
Dalam tradisi masyarakat setempat, ziarah tidak hanya dipandang sebagai kegiatan keagamaan, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan upaya menjaga warisan sejarah.
Salah seorang keturunan Pangeran Papak pernah menjelaskan prinsip pengelolaan makam dengan ungkapan Sunda:
> “Lain migusti, tapi mupusti.”
Ungkapan tersebut dapat dimaknai sebagai bukan untuk menuhankan, melainkan untuk memelihara dan melestarikan.
Pesan ini menggambarkan pentingnya menjaga nilai sejarah, tradisi, dan penghormatan terhadap tokoh yang dikenang oleh masyarakat.
Mata Air dan Tradisi Budaya di Cinunuk
Di sekitar kompleks makam terdapat sumber air yang dikenal masyarakat dengan nama Cimuara Pancuran Tujuh.
Sumber air tersebut dimanfaatkan masyarakat untuk keperluan sehari-hari dan menjadi bagian dari pengalaman ziarah di kawasan Cinunuk.
Selain itu, keluarga besar Pangeran Papak juga masih menjalankan tradisi budaya yang berkaitan dengan peninggalan leluhur, salah satunya adalah Ngebakeun Pusaka.
Tradisi ini merupakan prosesi membasuh atau memandikan benda pusaka, termasuk keris Pasopati, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Muludan di Cinunuk.
Jejak Pasukan Pangeran Papak dalam Sejarah Perjuangan
Nama Pangeran Papak juga dikenal dalam catatan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia di Garut.
Pada masa Revolusi Kemerdekaan, sekitar 1945–1949, terdapat sebuah laskar rakyat yang dikenal sebagai Pasukan Pangeran Papak.
Menurut catatan sejarah yang ditulis Hendi Jo, pasukan tersebut terlibat dalam perjuangan menghadapi kembalinya kekuatan Belanda di wilayah Garut.
Di Kompleks Pemakaman Umum Cinunukan juga terdapat sejumlah makam yang oleh masyarakat setempat dikaitkan dengan para pejuang dari pasukan tersebut.
Kisah ini memperlihatkan bahwa nama Pangeran Papak tidak hanya melekat pada tradisi keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari ingatan sejarah perjuangan masyarakat Garut.
Dokumentasi Garoet Tempo Doeloe
Foto gerbang Makam Pangeran Papak Cinunuk ini diabadikan pada:
Lokasi: Makam Pangeran Papak, Cinunuk, Wanaraja, Garut
Tanggal: 12 April 2021
Fotografer: Agus Kusdinar
Digital Restoration & Documentation: Garoet Tempo Doeloe
Melalui dokumentasi visual dan penelusuran sejarah, keberadaan situs seperti Makam Pangeran Papak dapat terus dikenalkan kepada generasi muda.
Situs-situs bersejarah bukan sekadar tempat yang menyimpan kisah masa lalu, melainkan juga ruang untuk memahami nilai-nilai budaya, tradisi, dan perjalanan masyarakat Garut dari masa ke masa.
Makam Pangeran Papak Cinunuk menjadi salah satu pengingat bahwa sejarah lokal memiliki kekayaan cerita yang patut dirawat dan diwariskan.
—
Sumber Referensi
1. NU Online Jabar – Makam Keramat di Garut, Pangeran Papak Cinunuk Wanaraja
2. Jurnal Lektur Keagamaan – Unsur Religi pada Makam-makam Kuna Islam di Kawasan Garut
3. NU Online Jabar – Ritual Mulud di Cinunuk Wanaraja Garut
4. Historia – Harimau-Harimau Garut
5. Sajarah Asal-usul Balubur Limbangan anu Ngarunday ka Djayadiwangsa (1988).
- Penulis: Redaksi Tigarut
- Sumber: GaroetTempoDoeloe

Saat ini belum ada komentar